Pandai Menjawab Belum Tentu Pandai Bertanya

Di berbagai acara diskusi pendidikan, seringkali kita mendengar keluhan banyak pihak yang mempertanyakan kemana arah pendidikan anak-anak Indonesia akan dibawa? Dari yang saya temukan, kebanyakan mulai menyadari akan minimnya kemampuan berfikir kreatif. Benarkah? Mari kita lihat..

Sibuk Mencari Sebuah Kotak

Ada banyak pakar pendidikan dasar di Indonesia mencoba menterjemahkan kreativitas. Sementara bagi anak-anak pra sekolah sejatinya mereka sudah memiliki kemampuan berfikir kreatif, konon karena bangku sekolah formil lah justru yang membuat daya kreativitas mereka menjadi beku. Ya ini masih menjadi perdebatan panjang hingga kini.

Untuk orang dewasa, kita sering mendengar saran banyak pakar kreativitas untuk berfikir out of the box. Yang kemudian melatih kita untuk berfikir di luar kebiasaan. Melakukan apa yang tidak biasa, mencoba apa yang selama ini jarang terfikir untuk dicoba, dan seterusnya. Celakanya karena modal pendidikan kita yang serba “dipandu oleh guru” maka untuk melakukan latihan out of the box ini pun masih banyak orang yang bertanya box-nya yang mana? Hampir banyak dari mereka sudah terbiasa dan terlatih untuk menerima JAWABAN yang satu. Jawaban pasti, jawaban mutlak, yaitu jawaban yang diberikan guru atau lembaran jawaban.

Jawaban = Segalanya

Pendidikan di Indonesia rasanya memang sudah terbentuk untuk belajar mencari jawaban, jawaban yang di-approoval oleh guru. Jadi ketika murid punya jawaban lain untuk konteks yang mirip, guru cenderung menutup diri. Alasan mereka sederhana, bahwa murid musti disiplin dan jangan nyeleneh (memberikan jawaban yang berbeda). Padahal kita tahu bahwa kemampuan memberikan jawaban yang berbeda atau dari sudut pandang lain mampu melatih daya berfikir kreatif.

Dalam setiap soal pelajaran di sekolah, anak-anak cenderung akan berlatih “membaca pikiran” gurunya. Kira-kira jawaban apa yang diinginkan oleh gurunya. Jadi bukan berlatih untuk mencerna dan memahami pertanyaan lalu mengolah untuk membangun jawabannya sendiri. Di sinilah awal dari minimnya anak-anak untuk mencoba berfikir nalar.

Pandai Bertanya

Bertanya adalah hal hina di Indonesia. Saat anak sekolah bertanya, ada rasa ketakutan dan terintimidasi. Akhirnya anak-anak sudah terbiasa untuk diam dan menerima apa adanya. Masalah ini berkaitan dan diperkuat dengan masalah sebelumnya, yaitu jawaban yang benar adalah jawaban dari guru. Maka ketika anak ingin bertanya untuk memberikan jawaban yang berbeda pun sudah tidak berani.

Sikap enggan bertanya sudah mendarah daging ke anak-anak Indonesia yang sudah masuk ke beberapa generai. Bertanya saat di kelas terkesan tidak memperhatikan guru, terkesan lamban, terkesan bodoh. Orang yang tidak bertanya adalah pintar dan paham. Bertanya seakan-akan hanya milik orang yang tidak mengerti saja. Padahal disini lah titik awal buyarnya kemampuan orang Indonesia dalam berfikir kreatif : minimnya kemampuan bertanya!

Dalam banyak artikel kreativitas di negara maju, questioning merupakan dasar dari curiosity (rasa ingin tahu) dan rasa ingin tahu ini adalah modal dari sifat kreativitas dan sikap inovatif. Bertanya tidak selalu kepada orang lain (komunikasi luar), akan tetapi juga bertanya pada diri sendiri (komunikasi dalam).

Saat kita bertanya pada diri sendiri, maka otak kita sedang diubek-ubek. Otak kita melakukan searching pada koleksi atau data yang pernah kita simpan. Saat itu lah proses berkomunikasi dalam terjadi. Hal tersebut bisa kita rasakan saat kita: merenung, melamun, berimajinasi, atau berproses kreasi. Nah, bagaimana mungkin seseorang bisa terlatih untuk berfikir alternatif jika otaknya terbiasa hanya menerima pertanyaan lalu memberikan jawaban. Seakan-akan makin pandai seseorang itu dilihat dari kemampuan memberikan jawaban yang tepat saja.

Era pandai menjawab nampaknya sudah lewat, apa pun pertanyaan kita sudah bisa terjawab lewat calculator atau Google, atau Wikipedia. Kemampuan seseorang dalam memberikan jawaban hanya bergantung pada kapasitas daya ingat saja. Dalam konteks cara berfikir, kemampuan ini sering disebut cara berfikir linear (searah), yaitu proses ada sebab akibat, atau proses menjawab sebuah pertanyaan. Jika tidak ada pertanyaan maka tidak akan ada jawaban. Dengan tidak ada proses menjawab maka tidak akan ada kerja otak.

Questioning Everything

Masa kini, kreativitas muncul dari kemampuan seseorang dalam memberikan pertanyaan. Baik itu bertanya pada seseorang (reporter misalnya) juga bertanya pada diri sendiri. Kemampuan self-questioning ini sebetulnya merupakan kemampuan dasar dari setiap manusia. Hal ini terbukti saat kita melihat anak kecil. Tiap anak gemar bertanya, pertanyaan atas seseuatu hal yang tidak penting sampai yang orang dewasa pun sulit menjawabnya. Tidak heran dalam beberapa eksperimen: anak-anak disuruh menulis cita-citanya atas sebuah rencana masa depan, kadang kala mereka memberikan ide-ide brilian yang jauh dari bayangan orang tua, kreatif!

Mulailah kita melatih bertanya, bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan standar, misalnya: Kenapa saya selalu terjebak macet? Kenapa saya selalu sulit konsentrasi? Kenapa pemasukan saya selalu minim? dan sejenisnya. Atau jenis pertanyaan yang mimpi atau iseng sekali pun, misalnya:

  • Bisa gak ya saya gak usah ngantor tapi kerjaan beres semua dan gaji naik terus?
  • Ada gak ya joki supir, yang bisa saya sewa untuk nyetir melintasi kemacetan Jakarta?
  • Kenapa ya jalur khusus sepeda selalu melewati jalan kendaraan lain? Kenapa gak dibuat yang melewati taman atau jalan kecil?
  • Kenapa pemerintah sibuk membuat mobil listrik sementara listrik untuk rumah pun masih byar pet?

Atau bahkan pertanyaan aneh, absurd, bahkan tidak masuk akal, misalnya:

  • Boleh gak ya presiden sebuah negara disewa dari negara lain?
  • Bisa gak ya bikin negara baru di atas samudera?
  • dst..

Resiko dari sering memberikan pertanyaan adalah suka dianggap kekanak-kanakan. Lakukan dalam hati saja, toh ini dilakukan sebagai upaya melatih kemampuan otak kita untuk mengolah data di kepala untuk keluar sebagai pertanyaan-pertanyaan. Saya sering memberikan latihan pada sebuah grup atau kelas, yaitu dengan memberikan sebuah benda, misalnya: tas koper, gunting, kotak makanan dll. Lalu grup diminta membuat 10 pertanyaan atas benda tersebut. Anda bisa coba, lakukan iseng-iseng saja, sendiri atau berkelompok. Lalu perhatikan pertanyaan anda dari no.1 hingga no.5 lalu bedakan dengan no.6 sampai no.10. Biasanya makin ke bawah pertanyaannya makin absurd tapi makin keren 🙂

Selamat bertanya!

Ditulis oleh: Motulz – @motulz (Head Of Creative)

Foto milik: @motulz

[]

 

 

Share
  1. firman lubis says:

    Bahasan yg bagus dan mengena, sekedar sharing, terkadang malah orangtua sendiri yg membatasi atau ‘membunuh’ pikiran2 kreatif tersebut dgn membentak atau menyuruh si anak diam karena si orangtua bosan ditanya terus2an atau tidak tahu jawabannya. Salam.

  2. Dwita says:

    Betul Kang..pengalaman aku jadi reporter, mengajukan pertanyaan itu ternyata lebih susah lho daripada yang menjawab. Ide tulisannya ciamik 🙂

Leave a Reply