Pendidikan Dasar: Menjadi Hina Saat Bertanya

“Malu Bertanya Sesat Di jalan..” Ya, ini pepatah yang sudah lama saya dengar. Karena saya takut sesat, maka saya bertanya dalam hati: mengapa musti ada pepatah “malu bertanya”? Apakah pepatah itu lahir karena banyak orang Indonesia yang malu untuk bertanya? Apa yang salah dengan “Bertanya?” Kenapa “Malu?” Mengapa musti ada pepatah seperti itu?

Sulitnya Bertanya

Suatu saat saya mengunjungi sebuah negara lain. Saya memperhatikan anak-anak di sana, dari mulut mereka banyak sekali muncul pertanyaan-pertanyaan. Mulai dari pertanyaan yang bisa dijawab, susah dijawab, dan aneh untuk dijawab. Ternyata tidak beda juga dengan anak-anak Indonesia, misalnya keponakan saya.. Saat dia bertanya, rasanya ada seribu pertanyaan lagi yang mengantri di belakangnya. Fuih!! Seru!

Tapi ada sedikit perbedaan, ketika anak-anak Indonesia ini mulai masuk sekolah dasar entah kenapa mulai muncul “tembok” di depan mulut mereka. Mereka jadi takut untuk bertanya kepada gurunya, apalagi ke temannya. Ada perasaan bahwa bertanya itu hanya dilakukan oleh orang bodoh dan sangat memalukan. Tidak heran jika guru-guru pun seringkali musti memancing para muridnya untuk bertanya, “ayo.. ada yang mau tanya?” Bahkan dalam acara besar seperti diskusi, sarasehan, temu wicara dan sejenisnya, untuk bertanya pun moderator kadang harus memberikan “hadiah” bagi para penanya. Segitu krisisnya kah bangsa ini dengan orang-orang yang mampu bertanya? Ternyata bagi banyak orang Indonesia, mereka butuh belajar bertanya selain belajar menjawab

Masalah ini tidak berhenti sampai di sana. Saya pernah punya rekan kerja, suatu saat kita sedang rapat atau meeting, lalu dia punya pertanyaan tapi dia enggan meng-angkat tangan untuk bertanya. Dia hanya berbisik kepada saya meminta menanyakan hal tadi ke forum. Saya bilang, lho.. ya tanya aja lansung..

Jawabannya : elo aja Tulz..gue males ntar dibilang rese..

Malu = Budaya Indonesia? I don’t Think So

Mengapa bertanya menjadi sebuah pekerjaan yang berat ya? Bukan kah dengan bertanya kita justru akan banyak mendapatkan informasi / data yang kita perlukan? Mengapa bertanya saja harus dipancing? Apa yang menjadi ketakutan dari efek bertanya?

Jika saja bertanya merupakan hal wajar, keseharian, dan bukan sikap yang memalukan, rasa-rasanya pepatah di atas tadi tidak akan pernah lahir. “Malu bertanya…”. Kenapa musti malu? Akan berbeda maknanya jika diganti menjadi : “Tidak bertanya, sesat di jalan” atau “Bertanyalah Untuk Menemukan Jalan Lain” atau apa lah..

Kata malu bukan saja seperti yang dibahas di atas, nampaknya sudah ber-anomali di tengah bangsa ini. Ketika kita ingin mencari kebenaran dengan bertanya, malah rasa malu yang muncul. Tapi ketika kita melakukan kesalahan dan keburukkan justru kita tidak merasa malu. Apakah rasa enggan bertanya ini lahir akibat dari jargon “Musyawarah Untuk Mufakat” ? Dimana perbedaan pendapat itu selalu dihindari oleh bangsa ini dan bertanya adalah bibit dari ketidak mufakatan? Mari kita sama-sama bertanya pada diri kita masing-masing..

Ditulis: Motulz – @motulz

Foto: Motulz

[]

 

Share

Leave a Reply