Indahnya Seni Penyuntingan Film Rectoverso

photo

Rectoverso, adalah novel kumpulan cerpen karya Dee Lestari yang difillmkan setelah novel sebelumnya “Perahu Kertas” juga sempat ikut menyemarakkan bioskop Indonesia. Jika di Perahu Kertas Dee sendiri  yang menulis skenarionya, kali ini di Rectoverso tiap cerpen ditulis oleh 5 penulis skenario berbeda, bahkan sutradara yang berbeda pula.

Melibatkan 5 orang sutradara perempuan serta menggabungkan 5 penulis cerita yang berbeda dalam satu film, tentu bukanlah perkara yang mudah. Film yang terdiri dari cerita pendek berjudul Firasat, Malaikat Juga Tahu, Curhat Buat Sahabat, Hanya Isyarat, serta Cicak di Dinding ini, uniknya tidak terasa seperti omnibus (film yang terdiri dari beberapa film pendek yang berbeda, sering diikat bersama oleh hanya satu tema, premis, atau peristiwa terikat).

Tentu saja karena teknik penyuntingannya (film editing) dibuat seakan kisah-kisah ini memang berada dalam satu cerita utuh. Jika dulu suka terdengar selentingan bahwa rata-rata penonton Indonesia hanya bisa menangkap 3 plot cerita dalam satu film, maka film Rectoverso seakan membantahnya. 5 Cerita ini disunting sedemikian rupa sehingga penonton nyaris tidak merasakan perbedaan antara cerita yang satu dengan cerita lainnya dan mana garapan sutradara A dengan sutradara B. Semua disusun dengan cantiknya. Bahkan klimaksnya pun dibuat secara bersamaan di bagian akhir film.

Inilah penting dan indahnya teknik penyuntingan dalam sebuah film. Menyusun dan membangun cerita tentu memiliki teknik dan cita rasa tersendiri. Untuk Rectoverso ini penyunting gambarnya adalah Cesa David Lukmansyah, yang memang terkenal sebagai film editor kawakan yang dimiliki Indonesia.

Sudahkah anda menonton Rectoverso?

 

(semua gambar milik Motulz)

[]   Tulisan oleh She – @toshiko_iko

Share

Leave a Reply