Grafiti Yang Menghiasi Pilar Jalan Layang

IMG_6727-small

Entah kapan mulainya, namun rasanya kita sudah sering melihat banyak sekali pilar atau dinding jalan layang yang dicoret-coret atau digambar sebagai sebuah karya yang disebut grafiti. Baguskah karya seni grafiti ini? Merusak? atau justru malah memperindah?

Jakarta, sebagai sebuah “belantara beton” kini bukan saja dipenuhi dengan tingginya beton-beton pencakar langit namun juga beton penyangga jalan raya,  monorel bahkan MRT. Meningkatnya pertumbuhan tiang pancang beton ini nampaknya menjadi sebuah tren baru bagi para “seniman jalanan” yang memanfaatkannya sebagai “kanvas” seninya.

Di beberapa kota metropolitan dunia, seni coret mencoret yang dikenal sebagai grafitti ini memang merupakan masalah yang ambigu. Beberapa karya hanya mengotori sementara tidak sedikit pula yang memang indah dan memukau sebagai sebuah karya jalanan. Pilar-pilar penyangga jalan layang memang seringkali dijadikan tempat bersinggah, mungkin karena cukup teduh dan adem di tengah panas dan kusutnya jalan-jalan Jakarta. Tidak sedikit pula “kolong” ini malah dijadikan pasar kaget oleh banyak pedagang kaki lima.

Uniknya di salah satu kolong jembatang layang di bilangan Jakarta Utara ini, justru menarik perhatian sutradara kondang Holywood – Michael Mann, yang mengambilnya sebagai salah satu lokasi sutingnya. Alasannya sederhana, yaitu eksotik dan menarik sebagai ciri Jakarta yang kumuh namun moderen. Lukisan dan coretan yang ada di kolong jalan layang ini justru menjadi daya tarik bagi Michael Mann. Menarik!

Lantas, bagaimana sebetulnya kita menghadapi grafitti ini? Harus distop karena kotor? harus digalakan lagi? atau dibina atau diberikan pengawasan? Kita bisa ambil contoh seperti di Barcelona Spanyol, dimana coretan-coretan yang kita temui di jalanan nampak liar ternyata dikerjakan oleh seniman-seniman kondang. Hasilnya adalah sebuah karya seni jalanan yang menjadi obyek foto-foto para turis.

IMG_1068-small-small

Bagaimana dengan Jakarta? Haruskan coretan-coretan ini difasilitasi atau dikelola agar mampu menjadi daya tarik tersendiri? Ada ide atau gagasan lain?

[]

(Foto-foto milik @motulz)

Share
  1. pernah lihat2 mural di Jogja ga oom?

  2. alamat lengkapnya ini dimana ya?

Leave a Reply