Kampung Kayu Kutai Kalimantan

Kampung kayu bukanlah sebuah nama kampung, melainkan hanya sebutan karena satu kampung ini terbuat dari kayu. Tidak cuma rumahnya melainkan semua bangunan hingga jalanannya. Di manakah kampung itu berada ?

Beberapa waktu lalu, Motzter ikut rombongan ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia)-nya Pak William Wongso dan Santhi Serad ke Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dalam perjalanannya ini, tidak lengkap jika tidak masuk ke pedalaman Kalimantan tanpa menyusuri Sungai Mahakam. Dalam perjalanan yang ditempuh selama 2,5 jam dengan motor boat, kita bisa singgah ke beberapa perkampungan yang cukup memukau karena semua kampung ini berada di atas Sungai Mahakam.

image-1

Lebar Sungai Mahakam itu memang tidak tanggung-tanggung, lebar dan dalam sekali. Tidak heran jika kapal berukuran besar pun bisa hilir mudik melintasi sungai ini. Sungai Mahakam menjadi jalur transportasi yang sangat vital bagi semua pemukiman yang berada di bantarannya.

Kampung-kampung yang berada di tepian Sungai Mahakam ini memang dibangun dengan bahan dasar kayu. Mirip dengan jenis rumah yang berada di sungai-sungai Sumatera juga. Kayu yang digunakan adalah Kayu Ulin atau lebih dikenal dengan nama Kayu Besi oleh warga Dayak. Kenapa disebut Kayu Besi? karena kayu ini sangat kuat sekali, terlebih saat direndam ke dalam air. Tidak heran jika akhirnya semua pondasi penyangga kampung ini ditopang oleh konstruksi kokoh kayu besi di atas Sungai Mahakam.

image-2

image-5

Tidak cuma rumah penduduk, tapi juga kantor lurah, kantor pos, mesjid, jalan utama, gang kecil, hingga lapangan bulutangkis dan lapangan upacara pun semua dibangun dengan bahan kayu dan tersusun sangat rapih dan unik. Semua dibangun di atas air, sejauh mata memandang kampung ini memang di atas air dan rawa. Sangat unik dan menarik sekali. Apalagi letak perkampungan ini tepat di bawah Garis Katulistiwa yang sangat panas terik, maka manfaat bahan kayu ini senantiasa membuat pemukiman terasa lebih sejuk.

image-3

image-6

image-7 image

Kayu Besi atau Kayu Ulin ini bukan sembarang kayu. Kayu ini sangat mahal karena bentuk dan teksturnya yang indah dan bagus sekali. Tidak heran jika resort-resort di Bali pun berani membeli kayu ulin bekas pakai dengan harga Rp.8,5 – 10 juta / kubik. Padahal di kampung-kampung tepian Sungai Mahakam ini, kayu Ulin yang baru bisa dibeli dengan harga 3 juta rupiah per kubik. Lebih gilanya lagi, di perkampungan Mansuar Raja Ampat, jenis kayu Ulin bukanlah yang favorit maka per kubiknya hanya dijual dengan harga 1,5 juta rupiah. Persedian hutan kayu Ulin pun masih berhamparan luas dan terus dijaga kelestarian dan penggunaannya oleh tiap-tiap warga. Sungguh sebuah contoh kekayaan negeri ini.

[]

(Foto-foto milik @motulz dan ACMI)

Share
  1. Bayot says:

    Sikarang aku mau beli, dimana tempatnya jek!

Leave a Reply