Pintu Zig-Zag, Membuat Halte Busway Tidak Berdesakan

photo 3

Transjakarta (busway) sebagai alat transportasi massal setidaknya sudah mampu menjadi alternatif masyarakat untuk menghindari kemacetan Jakarta. Akan tetapi kini kemacetan justru terjadi pada antrian penumpang yang membludak di halte Transjakarta. Apa solusinya?

Pemprov DKI terus melakukan upaya mengurai kemacetan Jakarta, salah satunya adalah penambahan armada bus Transjakarta. Penambahan ini diharapkan mampu menambah frekwensi daya angkut penumpangnya. Akan tetapi, dengan seringnya bus Transjakarta tersendat dengan kendaraan lain, maka penumpukkan penumpang di halte bus pun meningkat. Antrian penumpang bisa mengular hingga tangga jembatan penyebrangan. Kemacetan dihindari di jalan raya, namun malah terjadi sejak di antrian menuju halte bus Transjakarta.

photo 2

Pengadaan transportasi massal bus Transjakarta memang nampaknya tidak mempertimbangankan faktor halte sebagai penunjang yang vital. Keberadaan halte bus Transjakarta memang tidak seragam, tergantung lahan dari lokasi yang menjadi titik pemberhentian. Di banyak titik, halte ini lokasinya berada di ruas trotoar yang sempit dan sangat tidak ideal dengan daya tampung penumpang. Akhirnya penumpukan penumpang yang berdesakan pun terjadi.

Jika diperhatikan, hampir banyak halte bus Transjakarta itu memiliki letak posisi pintu kiri – kanan (datang – pergi)-nya berhadapan sejajar. Tanpa disadari letak pintu berhadapan ini membuat penumpukan penumpang. Apalagi di saat bersamaan ada penumpang datang dari bus berlawanan.

sejajar

(Klik untuk perbesar gambar)

Sekedar ide, salah satu solusi mengurangi penumpukan penumpang tersebut adalah dengan menggeser pintu halte menjadi posisi selang-seling atau zig-zag (lihat ilustrasi). Dengan letak posisi pintu yang tidak berhadapan ini (zig-zag) maka alur penumpang (flow) yang datang, pergi, atau berpindah tidak terlalu bertumpuk. Jika saja peletakan pintu halte bus dibuat zig-zag, maka penumpukan penumpang pun bisa terpecah dalam kumpulan yang zig-zag pula.

zigzag

(Klik untuk perbesar gambar)

Lalu, bagimana dengan halte yang berlokasi di trotoar yang sangat sempit? Bagaimana mungkin flow penumpang dipaksakan dalam ruas yang sangat sempit sekali? Solusi yang paling memungkinkan adalah dengan mendesain halte bertingkat. Dengan pertimbangan bahwa semua penumpang yang datang dan pergi melalui jalan jembatan penyeberangan maka mustinya desain halte busway bisa dibuat bertingkat. Loket dan ruang tunggu bisa berada di atas, sementara ruang bawah hanya digunakan untuk flow penumpang yang baru datang saja. Detilnya seperti apa? Mustinya para arsitek bisa menjawab tantangan tersebut, jika saja PemprovDKI membuka sayembara tantangannya.. berani?

[]

(Foto-foto dan ilustrasi milik @motulz)

Share

Leave a Reply