Kreatifitas Photoshop: Penentu Masa Depan Bangsa

(Foto milik: Agan Harahap)

Bagi orang yang bekerja di dunia kreatif tentu kita kenal betul dengan software Photoshop. Sebuah software editing foto yang sudah lama hadir dan mampu “mengubah wajah dunia” termasuk masa depan bangsa! Bagaimana bisa?

Adobe Photoshop, lahir sebagai sebuah software untuk meng-edit foto. Sejak kemunculannya tahun 1987, Photoshop sudah berhasil mengubah wajah dunia lewat foto-foto yang bertebaran di sejagad bumi ini. Lewat Photoshop, bukan saja gambar atau foto yang buruk bisa diperbaiki menjadi bagus, akan tetapi foto yang tidak ada bisa dibuat menjadi ada. Artinya, sebuah hasil foto bisa jadi tidak pernah dijepretkan oleh seorang fotografer, namun bisa hadir seolah-olah foto tersebut nyata ada.

Fenomena edit foto dengan Photoshop juga mengimbas besar sekali di Indonesia, yang kemudian dikenal dengan plesetan “sotosop“. Hasil foto editan sotosop mulai gempar ketika ditemukan sebuah foto di jagad maya dan kemudian meresahkan masyarakat. Ada semacam kebutuhan klarifikasi dari seorang pakar atau lembaga yang legitimate. Sayangnya tidak ada, maka munculah seseorang yang hobi fotografi dan berani melakukan klarifikasi untuk menyatakan foto ini asli atau palsu lewat analisanya, dia adalah Roy Suryo. Berkat kegigihannya menjadi “polisi sotosop” ia pun berhasil dipercaya presiden menjadi seorang menteri.

 

Yang besar dan sangat terasa sekali pengaruhnya juga adalah saat Pemilihan Presiden 2014 sepanjang bulan Juni dan Juli 2014 ini. Era keterbukaan di Indonesia membuat rakyatnya haus akan informasi, baik informasi resmi maupun yang kasak-kusuk. Berita kasak-kusuk dalam bentuk tulisan mulai diragukan dibanding berita dalam bentuk foto. Hingga lahir istilah “no pic = hoax” atau jika tidak ada foto (pic) sebagai bukti maka berita itu palsu (hoax). Maka kebutuhan akan berita foto makin tinggi dan makin digemari. Kemampuan dan ketrampilan mengolah foto lewat Photosop pun secara kreatif makin tumbuh besar bahkan lepas kendali bak tsunami. Foto yang diedit pun mulai memasuki batas norma dan etika. Kejadian yang tidak pernah ada pun bisa direkayasa menjadi sebuah kejadian baru. Masyarakat yang awam dengan mudah menerima itu secara lugu dan polos. Lebih celakanya lagi mereka ikut menyebarluaskan si foto rekaan tadi.

Photoshop – hanyalah bentuk lain dari sebuah teknologi. Sejak jaman dahulu kala teknologi memang selalu bermata dua, bisa digunakan untuk memudahkan kerja manusia namun di sisi lain bisa digunakan juga sebagai alat kejahatan. Penemuan teknologi pisau jelas memudahkan kita untuk memotong sesuatu, namun karena penemuan pisau juga kini manusia bisa dengan mudah membunuh seseorang hanya dengan menggunakan alat pembunuh yang tersedia di dapur. Photosop, atau software photo editing lainnya, akan terus berkembang dan makin canggih. Makin mampu membuat foto rekaan menjadi semakin nyata dan ada. Secara teknologi jelas tidak salah, makin foto rekayasa mendekati foto asli, maka makin canggih teknologi tersebut. Sekarang tinggal tanggung jawab si pengguna teknologi lah yang mampu menilai kemana teknologi ini mau dibawa. Mau dibawa sebagai manfaat? fitnah? becanda? iseng? atau sekedar joke dan humor saja?

Agan Harahap, seorang fotografer ternama di Jakarta. Menggunakan teknologi rekayasa foto ini sebagai karya seninya. Kepiawaiannya mengolah rekayasa foto rekaan menjadi kesan foto asli, diyakini banyak penikmat fotografi sebagai sebuah karya “rekayasa” yang ciamik dan sarat dengan kemampuan editing tingkat tinggi. Beruntung karena semua karya Agan Harahap ini dikonfirmasi oleh si senimannya sendiri. Berbeda halnya dengan foto-foto hasil rekayasa yang tersebar di media sosial yang digunakan sebagai media fitnah atau kebenaran palsu. Lebih celaka lagi disaat foto-foto palsu yang beredar di media sosial ini malah dijadikan rujukan atau referensi media-media massa.

(Foto milik Agan Harahap)

(Foto milik Agan Harahap)

Apa yang terjadi jika saat sebuah bangsa harus mengambil keputusan besar atas masa depan negaranya, harus terkontaminasi oleh opini atau berita palsu yang diyakini oleh rakyatnya? Padahal opini dan berita tadi hanyalah produk rekayasa hasil kerja foto editing, bernama Photoshop? Sebagai penemu software ini, saya yakin Thomas Knoll akan sedih dan ikut merasa bersalah. Semoga kemampuan pelaku teknologi dan kreativitas penggunanya akan ikut tersadar atas dampak dari sisi lain kejamnya pisau Photoshop ini.

[]

(Semua foto dikumpulkan dan diambil dari Internet hanya sebagai referensi)

Share

Leave a Reply