Cara Asik Menikmati Rasa Film Tabula Rasa

Film Tabula Rasa memang film yang bercerita tentang makanan, akan tetapi sejak judul film ini saya dengar, ada pertanyaan besar yang recall di kepala saya, bahwa istilah “tabula rasa” perasaan bukan tentang makanan, akan tetapi tentang teori proses belajar. Lantas apa kaitannya dengan makanan di film ini? Hal inilah yang menarik perhatian saya untuk pergi ke bioskop dan nonton filmnya.

photo-3

Bercerita tentang anak Papua – Hans, yang mencoba perbaikan nasibnya ke Jakarta menjadi pemain bola, lantas karena satu dan lain hal akhirnya Hans malah terjebak dalam sebuah kehidupan keluarga kecil pengelola rumah makan Padang. Sejak awal, film ini sudah mencolek perhatian saya dengan menampilkan sosok karakter dari dua sisi terjauh negeri ini, yaitu Hans dari “Timur” Indonesia yaitu Papua dan keluarga Emak dari sisi “Barat” yaitu Padang Sumatera Barat. Mereka bertemu dalam sebuah kisah dan konflik yang berlatar belakang makanan. Yup.. ini memang bukan film tentang tips cara masak, atau menjual kepiawaian tukang masak, ini hanya film drama dengan konflik sederhana namun berhasil menampilkan humor-humor yang renyah. Makanan di sini menjadi latar belakang cerita yang mana sangat kuat sekali mengingat betapa masakan Padang itu sudah menjadi kultur yang sangat kental dalam kehidupan masyarakat Padang.

photo-1

Saya jadi ingat film Mexico berjudul “Like Water For Chocolate” karya Alfonso Arau, yang dengan indahnya menggambarkan bagaimana kepercayaan masyarakat Mexico terhadap cara memasak. Jika kita masak dengan hati gembira maka siapa pun yang makan masakan tersebut akan ikut gembira. Begitu pun jika kita memasak dengan hati sedih maka siapa pun yang makan masakan tersebut akan merasa sedih. Nah.. ternyata masyarakat Sumatera Barat pun punya “local wisdom” semacam itu dalam hal memasak. Keren sekali! Saya pun sempat terjebak dengan peran yang ditampilkan sebagai rumah makan Padang, tentu saja saya langsung “menuduh” bahwa tokoh utama masakannya adalah Rendang, blaar.. ! ternyata saya salah. Bang Tumpal Tampubolon – penulis film ini, dengan ciamik justru menampilkan tokoh utama masakannya bukan Si Rendang yang sangat tersohor itu sampai CNN, melainkan Gulai Kepala Kakap! Duh.. ini emang enak sekali!

Lain “Barat” lain pula “Timur”, Hans sebagai representasi pria Papua yang mengadu nasib di Pulau Jawa sangat mengagumkan di mata saya. Kepolosannya sangat berhasil menjadi karakter umum pria Papua. Hans bukan dari suku Papua pedalaman di puncak-puncak gunung, melainkan suku Papua pesisir (saya tidak tahu persisnya namun lokasi ini muncul indah sekali di banyak scene). Seperti yang kita tahu, masyarakat Papua pesisir beda dengan yang tinggal di gunung atau pedalaman. Mereka lebih terbuka dengan orang baru, hal baru, dan ilmu-ilmu baru. Hans digambarkan layaknya pria Papua yang menjalani hari demi hari tanpa tujuan pasti. Saat ditanya si Emak mau kemana, ia hanya menjawab dengan datar dan kosong: “ke sana!” – Sungguh sebuah jawaban tanpa tujuan.

photo-5

Ya, Hans memang sosok yang putus asa. Ia hanya menjalankan hari demi hari dengan kekosongan dan kehampaan. Cuma rasa lapar yang selalu membuatnya bergairah untuk melakukan hal apa saja. Pertemuan Hans dengan Emak, memang terasa mengada-ada, namun di ujung film hal ini menjadi jawaban yang indah. Yang kemudian secara pelan dan mulus sekali masuk ke bagian pemunculan tokoh utama makanan, yaitu sang “Gulai Kepala Kakap”. Alur ini sederhana dan manis sekali.

Seperti halnya menikmati makanan, menikmati film Tabula Rasa ini memang tidak bisa terburu-buru, harus santai, bagi beberapa orang hal ini dianggap dragging. Ibarat kita mau makan, film ini bukan tipe makan untuk kenyang, melainkan makan untuk dinikmati. Alur film Tabula Rasa pun demikian, kita penonton disuguhi sajian pembuka terlebih dahulu, pelan-pelan baru masuk ke makanan utama. Di sini kita mulai bisa menikmati detil tiap racikan, rasa sedih, rasa marah, rasa gembira, dan rasa ketawa-ketawa. Lengkap! Dan sebagai menu penutupnya, film ini tidak memaksa kita meledak-ledak bak film action. Kita cukup untuk bisa tersenyum sambil menghela nafas, mirip dengan saat kita menutup makan malam kita dengan dessert atau menu pencuci mulut buah-buahan. Tidak terlalu strong, tidak juga terlalu hambar. Pas-pas saja agar rasa masakan utamanya tetap berkesan di benak kepala kita.

tabularasa

Akhirnya saya mencoba paham arti dari tabula rasa yang dimaksud dari film ini, yaitu teori proses belajar pada masa lalu yang menganggap anak didik adalah sebuat kertas kosong yang siap diisi oleh gurunya. Sosok Hans digambarkan sebagai sosok “anak didik” bagaikan kertas kosong yang tanpa arah tujuan. Bertemu dengan Emak, bagaikan bertemu dengan sosok guru, yang dengan penuh perhatian memberikan ilmu-ilmu barunya kepada Hans. Kertas kosong Hans perlahan terisi sedikit demi sedikit. Hingga pada akhirnya Hans pun “berani” mengubah arah dia pergi. Para pria Papua selalu pergi setiap hari, yaitu pergi ke arah yang sama dengan tanpa tujuan apa-apa, hanya pergi lalu kembali di sore harinya. Hans tidak demikian..

Paling tidak, begitulah cara saya menikmati sajian film Tabula Rasa.. bisa jadi kita sama, bisa jadi kita berbeda. Sudahkah kamu nonton? Bagaimana menurut kamu? Share ya šŸ™‚

[]

Resensi oleh : @motulz

Semua foto milik Tabula Rasa Film

Share
  1. warm says:

    belum nonton, dan pengen nonton

  2. Putri Ompusunggu says:

    Udah bertahun-tahun tidak pernah menonton film Indonesia, baru tadi malam saya menonton “Tabula Rasa”… satu kata “impressive” dari segi cerita, aktor, simple, mengena, mendidik (itu yg terpenting) dan menghibur.. Salut!!… walau akhir cerita agak2 ngambang.. menurut saya .. apa memang dibuat begitu..atau ada maknanya.. tapi menurut saya..TWO THUMBS UP….

  3. Memez says:

    Ini film yang cerdas, bukan popcorn movie. Saya salut luar biasa dengan akting Yayu W Unru, dan kemudian merasa ikut hampa ketika Ia memasak di rumah makan padang yang besar. Moral storynya bagus bgt.

  4. Review keren, mas… Sudah nonton pas hari pertama tayang di biskop Solo, langsung suka dengan tema yang diangkat, akting pemainnya juga nggak kacangan, bahkan pemeran Hans pun bisa membawakan karakter dengan baik… Singkat komen, Tabula Rasa bikin saya ngidam Gulai Kepala Kakap sampai sekarang hehehe

  5. ganis rumpoko says:

    Habis nonton dan langsung pengen makan padang! Endingnya memang bikin penasaran. Seru juga kalo yg nonton disuruh bikin alternate ending versinya masing2

Leave a Reply