Penduduk Kepulauan, Bukti Ramahnya Bangsa Maritim

_MG_4191

Kepulauan Seribu, dapat diumpamakan sebagai sebuah miniatur Indonesia sebagai negara kepulauan. Selain miniatur format kepulauan juga representasi sikap ramah dari sebuah bangsa maritim. Ada hal yang sangat khas sebagai ciri dari ramahnya penduduk di pesisir pantai, yaitu ketika ada kapal atau perahu yang sedang merapat, mereka sudah pasti akan siap menerima dengan tangan terbuka lemparan tali untuk menambatkan kapal.

Sikap terbuka dan percaya terhadap pendatang (orang baru) ini nampaknya sudah menjadi ciri manusia atau penduduk yang tinggal di tepi pantai. Sikap ini menjelaskan pula bahwa orang Indonesia sejak dulu sudah tertanam sikap ramah dengan pendatang.

Mungkinkah karakter ramah dan mudah guyub ini menjadi dasar mengapa social media begitu mudah penetrasinya di Indonesia?
[]
Share
  1. Antyo says:

    Orang pesisir memang lebih terbuka. Benar. Dan mereka sulit “diatur”. Itu sebabnya kesultanan di pedalaman Jawa paling repot mengatasi para adipati pesisir. Para adipati pesisir ini bisa punya uang sendiri kalau pelabuhannya laku, bisa beli senjata, bayar tentara, dst.

    • motulz says:

      oooh… wah menarik nih Paman 😀 asik kalo ada kajian khusus ttg ini kali ya

      • Antyo says:

        Dalam sejarah kekuasaan Jawa, persoalan orang pedalaman dengan adipati pesisir ini selalu ada, dan perkawinan (memberikan anak perempuan) adalah salah satu pengikat.
        Adipati yang kuat punya bendar (pelabuhan) yang hidup. Dari sana cukai berasal. Banten dulu kuat ya karena itu. Begitu juga Tuban.
        Sebenarnya Jawa sempat memiliki beberapa kerajaan bahari sebelum akhirnya hanya memiliki kesultanan agraris 😀

        Yang saya rasakan sekarang karena saya juga orang Jawa yang nanggung, saya tak tahu kosakata Jawa untuk dunia bahari misalnya lunas kapal, lambung, buritan, dst, Begitu pula istilah geografis kelautan semisal untuk teluk, selat, semenanjung, dsb. Orang Jawa menyebut semuanya “laut” — kalo luas ya “samodra”. Bahkan beberapa orang Jawa lama enak saja menyebut kapal itu perahu. “Si Slamet lunga menyang Makassar numpat prau.” Lho, maksudnya pake canoe apa kayak, atau catamaran? :))

Leave a Reply