Masih Ada yang Mampir ke Sinematek, Tempat Restorasi Film Indonesia?

Beberapa waktu lalu, saat saya mampir ke Pasar Festival, saya iseng mampir ke Sinematek. Hanya bermodalkan rasa penasaran, saya pun sempat bertanya-tanya di mana ruang Sinematek tersebut.

Saat saya masuk, ruangan nampak sepi. Mas Budi menyambut saya dengan hangat sambil membawakan brosur dan meminta saya mengisi buku tamu.

Saya menjelaskan alasan saya datang ke Sinematek. Rupanya Mas Budi justru berbaik hati menemani saya mengenal Sinematek lebih dalam.

Mas Budi, salah satu petugas Sinematek

Lembaga ini menyimpan lebih dari 2.700 salinan atau arsip film nasional yang pernah diproduksi oleh para sineas Indonesia. Film-film ini diputar baik di dalam dan luar negeri sejak kurun waktu tahun 1950-an.

Tersimpan pula poster-poster film, peralatan film, naskah skenario, dan properti film penting dan bersejarah lainnya yang menjadi saksi perjalanan perfilman nasional.

Sebenarnya salah satu peran terpenting sinematek adalah restorasi dari film ke file digital. Jadi di sana kita bisa melihat film jadul, sebut saja di antaranya Lewat Djam Malam dan Tiga Dara.

Mas Budi juga mengajak saya untuk melihat bagaimana cara merawat gulungan negatif film. Di ruangan tersebut bau menyengat bahan kimia sangat menggangu saya, salut untuk pekerja yang setia merawat gulungan film. Menurut Mas Budi, pernah dalam satu masa petugas perawat gulungan film hanya satu orang.

Ruang membersihkan flm

Cairan pembersih film

“Petugasnya memang hanya sedikit, dan biasanya proses pembersihan satu gulungan film itu hampir satu hari. Ini memang seperti pekerjaan yang tidak ada habisnya,” ungkap Mas Budi.

Selepas melihat ruangan tersebut, saya diajak ke tempat penyimpanan film. Ruangan tersebut sangat dingin. Memang, film harus disimpan di suhu rata-rata -5 derajat celcius.

Ruangan tersebut seperti gudang roll film yang gelap. Sayang sekali, beberapa pojok atap hampir bocor. Melihat dua ruangan itu membuat saya agak miris. Selama ini pengetahuan kita hanya sampai pada menikmati berbagai film Indonesia, tanpa tahu bagaimana film-film itu disimpan.

Di situ Mas Budi juga menunjukkan beberapa poster film jaman dulu yang masih digambar.

“Ini hebatnya poster film jaman dulu. Semuanya ini digambar dan rasanya ketika melihatnya jadi lebih spesial karena dibuat dengan proses yang panjang,” tuturnya.

Selepas melihat hampir semua ruangan, saya pun mengobrol sedikit dengan Mas Budi. Ia sempat berkeluh kesah soal minimnya tenaga di Sinematek serta jarangnya kepedulian terhadap tempat ini.

Lantas pertanyaan saya adalah kenapa Mas Budi bertahan? Jawabannya agak membuat saya kagum:

“Saya memang suka sekali dengan film Indonesia. Memang banyak pekerjaan yang lebih menjanjikan di luar sana. Tapi ya bagaimana? Saya di sini karena memang saya senang melakukannya. Saya berharap Sinematek ke depannya lebih baik,” ungkap laki-laki paruh baya ini.

Lantas apakah kita para penikmat film tertarik untuk mampir ke Sinematek? Bagi sebagian orang Sinematek mungkin kurang seru untuk dikunjungi. Selama ini Sinematek hanya menjadi tempat bagi mereka yang sedang thesis di bidang film atau sekelompok pelajar yang ingin menonton film Indonesia jaman dahulu.

Namun, tidak ada salahnya untuk mengunjungi Sinematek sesekali. Setidaknya untuk menunjukkan bahwa kita peduli 🙂

  1. Hari Suwondo says:

    Orang umum seperti saya bisa berkunjung ke SINEMATEK? Kalau bisa jam berapa dan hari apa saja bisa berkunjung, Trims

  2. motulz says:

    Kayaknya hari kerja deh Mas Hari.. ini mirip perpustakaan gitu koq

  3. […] pada salah satu media bahwa kebanyakan salinan film yang mereka terima bukanlah fresh copy. Kondisi penyimpanan film pun memprihatinkan. Banyak gulungan rol film yang disimpan dalam wadah berkarat. Bukan tidak mungkin lagi lembaran rol […]

Leave a Reply