Apakah Layanan Music Streaming jadi Ancaman Toko CD?

Ketika diluncurkan pada tahun 2003, iTunes Music Store, kini bernama iTunes Store, diklaim berhasil membawa perubahan besar pada industri musik. Toko musik digital yang bisa diakses dari aplikasi iTunes di komputer itu memopulerkan penjualan musik dalam bentuk album dan single digital.

Menurut catatan CNN Money, pada tahun 2012, saat CD hanya laku 500 juta keping, single digital terjual hingga 819 trek. Musik digital pun dianggap pelan-pelan “membunuh” penjualan CD.

Belakangan, hadirnya berbagai layanan streaming musik disebut-sebut akan menggantikan kedudukan CD, sembari membawa dampak perubahan baru pada industri musik.

Deezer, Spotify, dan Guvera merupakan salah satu layanan pertama yang membawa arus perubahan ini. Meluncurkan layanannya masing-masing pada 2007, 2008, dan 2010, ketiganya mengizinkan penikmat musik mendengarkan album atau single digital secara streaming. Apple pun tidak mau ketinggalan dengan memperkenalkan layanan serupa bernama Apple Music pada pertengahan 2015.

Di sisi lain, mungkin karena adanya trigger dari layanan musik online, penyuka CD fisik pun mulai menunjukkan taringnya. Mereka yang mengaku oldies sejati justru semakin memburu CD fisik; menujukkan bahwa kami (para penyuka CD fisik) masih ada loh!

Sayangnya, demand ini mungkin tidak disadari para penyedia CD fisik. Malah di awal tahun 2016, Disc Tarra memutuskan untuk menutup semua outlet-nya. Toko penyedia CD fisik pun makin sulit ditemukan.

Kendati demikian, mereka yang masih percaya kalau CD fisik masih diminati justru berkumpul; ada yang menjadi sebuah komunitas atau ada pula yang menjadi penyedia.

Salah satu tempat penyedia CD fisik yang banyak dikenal adalah Sentra Musik Blok M. Di sana berkumpul para pedagang CD; baik yang bekas maupun baru. Saya pun mampir ke sana untuk menikmati suasana di Sentra Musik Blok M.

Benar saja, ada belasan toko musik di Sentra Musik Blok M dan hampir semuanya menyalakan musik mereka. Ada yang memasang vinyl musik jazz atau ada yang sekadar memutar CD lagu rock Indonesia.

Saya mampir ke Kedai Musik milik Mas Andri. Ia berkisah kalau beberapa pedangang di sini awalnya berdagang di Taman Puring. Sebuah event musik akhirnya membawa mereka untuk membuka Sentra Musik Blok M ini.

Suasana di Sentra Musik Blok M sangat kekeluargaan; tidak ada rebutan customer. Saya menemukan ada satu orang yang mencari CD favoritnya ke salah satu pedagang. Si pedagang tidak punya CD tersebut dan malah mengantarkan si pembeli ke rekan pedagang lain yang memang mempunyai CD tersebut.

Tidak hanya CD, Vinyl, atau Kaset, saya juga bisa menemukan kaus band plus poster-poster jadul yang bagi saya pribadi sangat bagus untuk dipasang di kamar.

Lantas, apakah Sentra Musik Blok M ramai? Cukup ramai! Bahkan mereka sering kali membuat event gathering; jualan CD sambil ditemani live music.

Pertanyaannya adalah apakah layanan musik online atau beli musik online bisa mengalahkan penjualan CD fisik?

Penjualan CD fisik memang mungkin berkurang karena adanya layanan musik online. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau penggemar CD fisik masih ada yang bertahan. Bukan tidak mungkin mereka justru bertambah seiring dengan banyaknya pengguna layanan musik online. Ingat, barang yang makin langka, bisa jadi barang itulah yang makin dicari.

Bagaimana menurut Anda?

[]

Diulas oleh : Toshiko Potoboda

Leave a Reply