Mural, dari wadah ekspresi suara hingga pemanis dinding ruang publik

Pernah memperhatikan tempat nongkrong yang biasa Anda kunjungi? Bila kita perhatikan, kini banyak kafe dengan tema industrial yang bermunculan. Untuk memperindahnya, tembok semen pun biasanya dihiasi dengan mural; bisa jadi tulisan atau gambar-gambar artsy.

Sebelum banyak digunakan untuk mengisi ruang kosong di dinding, asal muasal mural ssebenarnya jauh sebelum peradaban modern. Mural diduga telah ada 30.000 tahun sebelum Masehi. Sejumlah gambar prasejarah pada dinding gua di Altamira, Spanyol, dan Lascaux, Prancis, yang melukiskan aksi-aksi berburu, meramu, dan aktivitas relijius, kerap disebut sebagai bentuk mural generasi pertama.

Memasuki tahun 1920, mural berkembang jadi lebih modern. Ini dipelopori antara lain oleh Diego Rivera, Jose Clemente Orozco, dan David Alfaro. Pada kisaran 1970-1990, Jean-Michel Basquiat dengan graffiti bertulisakan S.A.M.O di sudut-sudut kota dan stasiun New York menginspirasi banyak seniman lain untuk berani berkarya di ruang publik. Salah satu seniman yang terpengaruh adalah Keith Haring yang kemudian dianggap sebagai seniman mural selama kariernya.

Salah satu karya mural Diego Rivera

Di Indonesia sendiri, Mural muncul sebagai sarana aspirasi saat zaman perang kemerdekaan. Saat itu, graffiti dan mural merupakan wadah untuk mengekspresikan keinginan para pejuang. Walaupun dengan skill dan peralatan yang masih sederhana, konsep tulisan di dinding menjadi paling aman untuk mengekspresikan pendapat secara diam-diam.

Mural di Indonesia cukup menarik untuk diikuti. Pasalnya, pernah ada satu masa saat karya mural dianggap hanya mengotori dinding. Memang, sebagian orang yang tidak bertanggung jawab kerap membuat mural terkesan hanya corat coret belaka. Padahal, tidak semua corat coret asal di dinding bisa disebut mural, kan?

Kini, mural justru menujukkan eksistensinya di kalangan muda yang menganggapnya artsy. Mural pun semakin banyak bermunculan di ruang publik. Lebih dari itu, saat ini berbagai tempat dan lokasi mulai memanfaatkan seni mural untuk memperindah ruangan dan desain interior serta eksteriornya.

Mural bukan hanya dianggap bisa memperindah ruangan. Hadirnya mural juga membuat suasana terkesan lebih artsy dan santai; cocok dengan selera kalangan muda.

Tidak berhenti di situ, hadirnya mural juga jadi background foto yang asyik untuk diunggah ke media sosial. Dengan angle yang tepat plus #ootd yang sesuai, mural jadi latar belakang yang asyik. Mungkin itu juga yang jadi alasan banyak ruang publik, khususnya kafe yang menggunakan mural. Ya, tentu untuk menarik pengunjung berfoto dan mengunggahnya ke media sosial.

Leave a Reply