Andre Mutons: Semua Berawal dari Snowman dan Kertas Kosong

Bermula dari melihat graffiti di jalan plus modal snowman serta buku tulis, Andre Arnoldus kini dikenal sebagai pembuat mural dengan signature Mutons yang ia buat. Mari kita kenal lebih dekat dengan lulusan Nanyang Academy of Fine Arts jurusan desain grafis ini!

“Saya ingat sekali pertama ketagihan graffiti, saya hanya coba-coba di kertas dengan spidol Snowman. Sepertinya saat itu hampir semua anak SMP punya spidol itu,” ungkapnya di sela percakapan via Whatsapp dengan Motzter.

Dari situ, menggambar jadi kegiatan waktu luang Andre. Pernah lihat pelajar yang hobi menggambar di sela-sela waktu sekolah? Ya, Andre salah satunya! Teman-temannya pun tertarik dan banyak minta dibuatkan graffiti. Dari situlah kemampuannya menggambar sedikit banyak jadi terasah.

Suatu ketika saat ia sedang menggambar di sekolah, ada satu rekannya yang mengenallkan Tembokbomber.com; platform online yang dulu sangat terkenal di kalangan anak graffiti di Indonesia. Setelah membuka website-nya, Andre pun semakin tertarik dan ingin belajar graffiti terus. Kemudian ia juga jadi ‘nagih’ menggunakan spray paint untuk membuat graffiti di tembok.

Kepada Motzter, Andre berkisah soal salah satu pengalaman membuat graffiti di jalan. Ia mengungkapkan graffiti yang paling ia suka dibuatnya di Bangkok. Waktu itu kebetulan ia sedang traveling bersama keluarga dan sengaja menyempatkan diri untuk pergi sendiri dan menggambar.

“Sebenarnya yang membuat menarik adalah lokasinya yang sangat kumuh. Saat saya bertanya anak graffiti lokal, lokasi itu memang biasa jadi wadah gambar para street artist dan memang banyak banget gambarnya. Cuma pas saya dateng, agak shock karena takut bakal dirampok. At the end, saya bisa menyelesaikan gambar dengan santai dan aman,” ungkapnya.

Andre dikenal dengan graffiti Street Mutons-nya. Saat ditanya kenapa harus Mutons, Andre menjelaskan bahwa karakter itu ia dapat saat main game sekitar akhir SMP atau awal SMA.

“Di game tersebut ada karakter yang bernama Muton. Karakter ini adalah street artist. Dari situ mulailah saya pakai nama Mutons untuk nick name di dunia graffiti yang saya tekuni,” jelasnya.

Soal influens, Andre menjelaskan kalau ia selalu suka dengan karya duo graffiti writer, 123klan. Mereka adalah Scien dan Klor, suami istri yang sama-sama bekerja sebagai designer dan graffiti writer.

“Saya sejujurnya nggak terlalu tahu dalam tentang mereka, tapi dari dulu graffiti mereka sangat menginfluens saya. Style mereka yang cenderung seperti graphic, elemen-elemen graffiti, dan penggunaan warnanya yang selalu menarik. Satu lagi ada graffiti artist dengan tag name-nya Rime. Dia punya character lettering yang curvy dan saya suka sekali dengan style writing-nya dia,” ungkap Andre.

Sementara untuk style pribadinya, Andre menuturkan kalau dirinya agak terinfluens dengan old school NY Style. Kendati demikian, dirinya mengakui kalau ia sendiri tidak tahu penyebutan style itu benar atau tidak

“Soalnya saya lebih suka bikin graffiti yang readable, artinya orang-orang awam bisa baca dengan jelas nama yang saya tuliskan. Banyak teman-teman ketika melihat gambar saya biasanya memberikan komentar ‘waah nice, old school style!’. Nah, itulah yang membuat saya jadi mikir kalau saya cenderung ke arah style itu.” jelasnya.

Walaupun saat ini Andre bekerja sebagai desainer grafis untuk brand Public Culture, hobi menggambarnya tetap ia tekuni. Bisa dibilang, graffiti dan mural jadi ‘hobi serius’nya. Tidak jarang ia pun dapat klien untuk mengerjakan graffiti dan mural.

“Sebenarnya bisnis bukan tujuan awal saya terjun di dunia graffiti, karena memang pure untuk hobi. Kalaupun ada klien, mostly dari teman dan media sosial. Itu sebabnya saya mengelola akun Instagram sebagai portfolio saya juga. Saya juga menuliskan alamat email di profile Instagram, jadi ada beberapa yang juga menghubungi saya dari situ,” jelasnya.

Soal commission work yang ia jalani, Andre juga punya cerita seru. Ia mengingat commission work pertama yang ia jalani adalah mengerjakan backdrop setting untuk sebuah video production di Singapura.

“Waktu itu mereka minta saya bikin backdrop untuk show mereka namanya Rapchef. Itu pengalaman yang cukup menarik karena saat gambar setengah jadi, klien minta ganti THE WHOLE THING. Jadi saya harus kerja dua kali, but overall it’s a good experience,” tuturnya.

Dalam sesi perbincangan dengan Motzter, Andre juga menjelaskan soal perbedaan antara commission work dengan berkarya di jalan yang ia geluti. Menurutnya untuk commission work, Andre lebih dianggap sebagai ‘tukang cat’ daripada graffiti artist.

“Klien melihat saya sebagai orang yang bisa menggambar di tembok. Sedangkan saya itu sebenarnya graffiti artist, dan yang saya gambar itu sebenarnya kebanyakan adalah huruf; bukan character kayak Superman atau Batman gitu,” jelas Andre.

Itulah yang kadang-kadang menurut Andre membuat klien salah sangka. Kadang akhirnya klien datang dan meminta gambar yang tidak bisa dipenuhi Andre.

“Yaa ibaratnya saya bisa menggambar kata dalam style graffiti, atau apapun yang bebau street. Tapi kalau Anda meminta saya menggambar Ultraman lagi bertengkar sama Godzila, saya angkat tangan,” kelakarnya.

Sebagai penutup percakapan, Andre menuturkan kalau yang terpenting dalam graffiti dan mural yang ia lakoni bukanlah persiapan atau alat yang serba kompleks.

“Justru yang paling penting adalah ‘enjoy yourself while doing it’ karena ketika kamu sedang menggambar, kamu pasti ingin mengekspresikan sesuatu. Adakah yang lebih baik dari mengekspresikan sesuatu yang bikin dirimu senang?” ungkapnya.

[]

Diulas oleh: Toshiko Potoboda

Leave a Reply