Desain Buku Menu dengan Watercolor, Ya atau Tidak?

Buku menu adalah representatif dari sajian di setiap restoran. Bagi sebagian restoran, mereka memilih untuk menyematkan foto makanan di buku menu mereka. Alasannya simpel, agar pengunjung tidak perlu bertanya-tanya soal rupa makanan yang ingin mereka pesan.

Namun, pernahkah Anda memperhatikan, beberapa kafe atau tempat nongkrong kadang melawan ‘pakem’ tersebut? Banyak yang kemudian membuat buku menu yang hanya berisi tulisan saja.

Mungkin buku menu seperti ini memang cocok untuk tempat makan dengan makanan dan minuman yang sudah familiar. Misalnya, french fries, spaghetti bolognaise, chicken wings, dan lainnya. Menu seperti ini tentu sudah bisa digambarkan di kepala kita, tanpa perlu melihat visualnya.

Lebih dari itu, beberapa waktu lalu saya menemukan buku menu dengan desain yang fresh. Alih-alih menggunakan foto, Ciknic Roast Chicken di Dharmawangsa menggunakan watercolor untuk menggambarkan menu mereka.

Saya pun penasaran dan ternyata saya berhasil menemui desainer grafis buku menu Ciknic Roast Chicken. Saya bertemu dengan Alexander Reza Sebastian yang ternyata adalah co-founder dari tempat makan tersebut.

“Berhubung target audience kita kisaran 25-35 tahun, brandingnya pun ke arah sana. Saya waktu itu lihat agak cocok saja kalau dibuat watercolor,” ungkapnya.

 

Tidak hanya di buku menu, sentuhan gambar dan doodle unik pun ada di dinding-dinding Ciknic. Rupanya, laki-laki yang biasa disapa Echa itu mengungkapkan kalau sentuhan artsy di Ciknic merupakan hasil kolaborasi.

“Kebetulan saya dekat dengan industri kreatif, jadi banyak bisa kolaborasi dengan beberapa seniman di circle saya. Intinya, saya ingin dinding Ciknic juga jadi wadah untuk meletakkan karya mereka,” jelasnya lebih lanjut.

Jadi, bagaimana menurut Anda dengan desain buku menu ini? Mana yang Anda lebih suka; buku menu dengan foto asli, watercolor, atau tanpa gambar sama sekali?

[]

Diulas oleh: Toshiko Potoboda

Leave a Reply