Pengamen, Menghibur atau Mengganggu?

Pengamen dan tempat makan pinggiran rasanya jadi dua hal yang saling berkaitan. Di mana ada tempat makan pinggiran, di situ ada pengamen yang membawakan beberapa tembang. Ada yang memang niat menggunakan gitar, cajon, bahkan biola; tapi ada pula yang hanya bermodal tepuk tangan.

Sebenarnya, pengamen telah ada sejak abad pertengahan di Eropa. Mereka yang disebut street singers ini mulai berkembang sejalan dengan penyebaran musik keagamaan saat itu. Seiring dengan musik gereja yang berkembang, di luar gereja juga berkembang sebuah aliran musik yang agak liar dan memiliki tema yang luas. Musik ini menggambarkan bentuk cinta yang lebih luas, tidak hanya sekadar hubungan manusia dengan Tuhan layaknya konsep musik gereja.

Musik ini yang kemudian dibawa oleh para pengelana. Mereka menggunakan alat musik yang bisa dibawa ke mana-mana dan mulai bernyanyi dari satu tempat ke tempat lain, mengelilingi negeri. Mereka pun mulai mendapatkan upah sebagai apresiasi tembang yang dibawakan.

Sementara itu, pengamen muncul di Indonesia sejak abad ke-13, tepatnya saat kejayaan Kediri. Saat itu, sudah banyak rombongan kesenian musik yang menghibur lewat syair dan pantun. Mereka yang akrab dsebut Dalang Kentrung ini juga berkeliling ke satu tempat ke tempat lainnya.

Sumber: Siwi Sang

Konsep asal muasal pengamen di dunia dan di Indonesia punya satu kesamaan, yaitu keduanya punya niat untuk menghibur. Sayangnya, makin ke sini kita bisa menemukan beberapa pengamen yang justru mengganggu kenyamanan saat makan atau nongkrong bersama teman.

Ada beberapa pengamen yang sebenarnya tidak niat bernyanyi, ada yang mengganggu, bahkan ada yang marah-marah bila tidak diberi upah. Kadang bila kita biasa nongkrong di kawasan street food, kita juga bisa menemukan terlalu banyak pengamen sehingga kita jadi merasa kurang nyaman. Padahal, pengamen seperti ini bisa merusak citra pengamen secara keseluruhan. Tidak heran kalau akhirnya banyak yang berpikir kalau pengamen identik dengan premanisme.

Mungkin pengamen-pengamen di Indonesia harus belajar dari pengamen di luar negeri. Biasanya, pengamen di luar negeri tidak menghampiri masyarakat untuk meminta upah. Mereka hanya berdiri di pinggiran, menampilkan karya, dan membiarkan masyarakat yang menghampiri serta memberi upah; tanpa kesan paksaan.

Sumber: Where Traveler

Saya salut saat melihat sekelompok pengamen keroncong yang ada di kawasan makan pinggiran samping AXA Tower Kuningan. Mereka berdiri di satu tempat, kemudian memainkan lagu keroncong yang asyik untuk menemani masyarakat saat makan siang.

Dua anggotanya berdiri sambil memegang ember untuk upah orang-orang yang lewat. Mereka tidak menghampiri orang-orang yang makan untuk minta upah. Salut, kan?

Andai saja, suatu hari nanti pengamen bisa lebih diatur distribusinya. Mungkin lebih nyaman bila sejumlah pengamen diberikan jadwal untuk bernyanyi di satu lokasi. Mereka bisa bergantian menghibur, jadi kita tidak akan menemukan pengamen yang datang lagi dan lagi engan lagu yang bahkan tidak mereka kuasai sebelumnya.

Nah, kalau Anda, lebih suka pengamen yang datang silih berganti plus meminta upah atau pengamen yang lebih terorganisir dengan konsep menerima upah? Saya sih yang kedua! 🙂

[]

Diulas oleh: Toshiko Potoboda

Leave a Reply