Food Fighters, Dulu dan Kini

Sekitar akhir 2014, Pasar Santa muncul dengan wajah baru yang di luar dugaan. Kios-kios musik jadul muncul seiring dengan banyaknya bisnis makanan yang juga tumbuh. Meski berlabel pasar, Pasar Santa saat itu membuktikan bahwa anak muda bisa nongkrong di pasar. Acara-acara kreatif pun dibuat untuk menajamkan eksistensi Pasar Santa untuk tempat berkumpul anak muda.

Hampir semua kios pun dikelola oleh anak muda. Spirit kreatif anak muda pun meniupkan semangat baru untuk Pasar Santa. Tidak heran, Pasar Santa sempat menjadi tongkrongan favorit anak muda Jakarta.

Sayangnya, euforia ini hanya berlangsung kurang lebih satu tahun. Saat itu, saya pernah menulis soal fenomena ini untuk satu laman online. Rupanya, beberapa pedagang Pasar Santa pindah ke kawasan Blok M.

Food Fighters awalnya bisa dikatakan sebagai ‘Pasar Santa Perjuangan’. Mereka yang pindah ke Food Fighters mengungkapkan kalau harga sewa di Pasar Santa naik tanpa ada perbaikan infrastruktur, termasuk masalah utama mereka yaitu sistem pendingin.

Mereka yang biasa nongkrong di Pasar Santa pun pindah ke Food Fighters. Vendor-vendor makanan pun terisi penuh, yang kebanyakan memang dari Pasar Santa. Di tahun 2015 pun, foto-foto makanan Food Fighters sering sekali muncul di feed Instagram penyuka makanan di Jakarta.

Tidak heran banyak yang nongkrong di Food Fighters. Makanan enak, spot yang Instagramable, Wi-Fi, dan colokan di mana-mana membuat Food Fighters jadi tempat hangout yang menjawab kebutuhan kawula muda.

Sayangnya, euphoria Food Fighters pun mulai tergerus waktu. Bila sekarang Anda mampir ke tempat tersebut, Anda akan menemukan banyak sekali gerai yang tutup. Untungnya di akhir minggu masih ada kegiatan seperti Garage Sale di Food Fighters.

Entah apa alasannya, namun kini kios-kios yang pernah menjajakan aneka makanan kekinian itu kosong melompong. Hanya ada satu dan dua kios yang bertahan. Sayang memang!

Apa pun alasannya, rasanya terlalu disayangkan bila wadah hangout seperti Food Fighters harus ditutup. Padahal, tempat itu bisa jadi wadah anak muda kreatif untuk membuat bisnis makanan yang biasanya out of the box.

Lantas yang jadi pertanyaan, apakah ke depannya wadah-wadah seperti ini hanya akan bertahan seumur jagung? Semoga tidak! Semoga saja semua pelaku yang terlibat bisa berinovasi sekreatif mungkin, sehingga mengundang para pengunjung untuk datang lagi dan lagi.

[]

Tulisan oleh; Toshiko Potoboda

Leave a Reply