5 Film Indonesia Ini Layak Dijadikan Penanda Perubahan

Perkembangan film di Indonesia tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Sudah banyak film indonesia yang menujukkan taringnya pada dunia, sebut saja Laskar Pelangi yang memenangkan Film Terbaik Festival Film Asia Pasifik 2009 dan tentu saja The Raid yang berhasil membawa pulang penghargaan Film Terbaik sejumlah kompetisi tingkat internasional.

Banyaknya apresiasi dalam negeri bagi perfilman Indonesia seperti FFI dan Piala Maya juga membuat banyak para pelakunya termotivasi membuat karya yang tidak biasa. Bayangkan saja, berdasarkan Wikipedia, di tahun 2015 produksi film Indonesia per bulan mencapai 20-30an judul.

Padahal jauh sebelum itu, di tahun 1960-an produksi film di Indonesia hanya 8 judul per tahun. Untuk mengembangkannya hingga sekarang, para pelaku film Indonesia harus banyak melakukan banyak perbaikan pembuatan film yang disesuaikan dengan berkembangnya teknologi perfilman di dunia.

Mari sejenak membayangkan kalau kita hidup di jaman film serba hitam putih dan berikut ini Motzter rangkumkan 5 film Indonesia yang layak disebut penanda perubahan perfilman di Indonesia.

1. Loetoeng Kasaroeng (1926)

Film ini dibuat pada tahun 1926 dan menjadi film pertama yang dibuat di Indonesia. Loetoeng Kasaroeng dibuat 26 tahun setelah bioskop pertama Indonesia di Tanah Abang, Batavia dibuat. Saat itu film masih disebut Gambar Idoep karena menampilkan gambar bergerak, tanpa suara, bahkan masih hitam putih, begitu pun dengan film Loetoeng Kasaroeng ini.

Walaupun Loetong Kasaroeng masih disutradarai dua orang Belanda yaitu G. Krueger dan L. Heuveldorp, tapi semua pemainnya sudah berasal dari aktor serta aktris pribumi. Film ini tercatat pernah 2 kali dibuat kembali yaitu di tahun 1952 dan 1983.

2. Indonesia Malaise (1931)

Lima tahun berselang dari pembuatan film pertama di Indonesia, Wong Bersaudara (Nelson, Joshua, dan Otniel) membuat film bersuara pertama yang berjudul Indonesia Malaise (1931). Saat itu, pengambilan gambar menggunakan kamera paling mahal di Eropa yang dimodifikasi menjadi “single system camera” yang bisa merekam gambar sekaligus suara.

Film dengan tonil Melayu ini berkisah soal cinta lama yang bersemi kembali. Sayangnya karena keadaan masyarakat yang masih melarat, film ini masih tidak banyak ditonton.

Sebenarnya di tahun yang sama sudah ada yang lebih dulu ingin mengembangkan film bersuara. Sayangnya film yang berjudul Bunga Roos dari Tjikembang (1931) tersebut masih belum sempurna bersuara.

3. Sembilan (1967)

Sumber foto: Beritagar

Film buatan Wim Umboh ini mungkin menjadi pionir film berwarna di Indonesia. Setelah film Sembilan dibuat, di tahun 1968 dua dari delapan film Indonesia sudah berwarna dan di tahun berikutnya hanya dua dari delapan film yang masih hitam putih.

Seluruh film ini juga sudah dibuat oleh tenaga Indonesia. Tapi memang, proses laboratorium masih dilakukan di Tokyo, Jepang.

Sebenarnya di tahun 1952, para pemain Indonesia sudah terlibat dalam pembuatan film berwarna sebelumnya yang berjudul Rodrigo de Villa (Gregorio Fernandez & Rempo Urip) di tahun 1952. Hanya saja film ini berlatar cerita Spanyol yang diproduksi di Manila, Filipina.

4. Garuda Superhero (2015)


Film animasi yang pertama kali dibuat orang Indonesia ini bergenre superhero dan kemungkinan akan diproduksi secara sequel. Garuda Superhero sudah menggunakan teknik Computer Genarted Imagery (CGI) sehingga semua karakter terlihat lebih natural.

Soal film animasi pertama Indonesia, jauh sebelum Garuda Superhero mungkin beberapa di antara kita pernah mendengar Si Huma. Sebenarnya animasi buatan Pak Raden ini merupakan animasi pertama yang diproduksi Indonesia, saya bentuknya adalah serial animasi bukan film. Si Huma tayang di TVRI tahun 1983 dengan durasi 11 menit per episode.

5.  Adriana (2013)


Selain dari warna, suara, dan animasi, Indonesia juga tentu mengembangkan resolusi film garapan dalam negri. Salah satunya Adriana yang merupakan pintu masuk resolusi 4K di Indonesia.

Film ini juga bekerjasama dengan Canon sehingga seluruh adegan film yang diproduseri Sophia Latjuba dan Eko Kristianto ini diambil menggunakan kamera Canon EOS C500 dengan resolusi hingga 4000 pixel. Tidak heran bila banyak penonton yang dimanjakan dengan detil warna tajam ala industri perfilman Hollywood.

Semoga beberapa film di atas sudah pernah Anda tonton. Selain 5 film di atas, film apa lagi yang menurut Anda layak dianggap sebagai penanda perubahan?

[]

Diulas oleh: Toshiko Potoboda

Leave a Reply