Pantjoran Tea House, Ceritakan Budaya Ngeteh di Indonesia

Bila kita berbincang soal daerah pecinan di Indonesia, tentu satu daerah yang akan kita sebut adalah kawasan Glodok. Tidak hanya dikenal sebagai pusat belanja elektronik. Lebih dari itu, Glodok punya cerita sejarah dan budaya yang menarik untuk diperbincangkan.

Dulu, kawasan Glodok merupakan bekas tempat isolasi kaum Tionghoa. Itulah yang menyebabkan kawasan Glodok mayoritas dihuni warga keturunan Tionghoa.

Kawasan yang sudah berdiri sejak tahun 1635 ini memiliki desain bangunan yang sesuai dengan aktifitas sosial masyarakat Glodok pada saat itu, yaitu berdagang. Itulah yang menyebabkan daerah ini didominasi ruko-ruko lama. Biasanya keluarga Tionghoa ini bermukim di bagian lantai atas, sementara di lantai bawah dimanfaatkan untuk ruang usaha.

Salah satu bangunan yang menjadi landmark di kawasan Glodok adalah sebuah toko obat tertua kedua di Jakarta yaitu Apotheek Chung Hwa. Apotik ini didirikan sekitar tahun 1928.

Di tahun 2015, gedung ini direvitalisasi oleh arsitek Ahmad Djuhara untuk Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC) menjadi Pantjoran Tea House. Revitalisasi ini sebagai bentuk upaya pemerintah menjadikan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai situs warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Lantas mengapa harus jadi kedai teh? Rupanya ini dikaitkan dengan Kota Tua yang identik dengan tradisi minum teh di tanah air. Kawasan ini merupakan tempat pertama yang memiliki sejarah teh cukup kuat.

Di Kota Tua, teh sudah ada sejak tahun 1684. Pertama kali, bibit teh dibawa dari Jepang oleh Andreas Cleyer, botanis yang bekerja untuk VOC. Tidak hanya untuk sekadar ngeteh, pada abad ke-18 teh juga berhasil membunuh kuman disentri yang menyerang masyarakat di daerah Pancoran.

Di Pantjoran Tea House, kita bisa menemukan empat jenis teh yang bisa dipilih yaitu Chinese Tea, Japanese Tea, English Tea, dan Indonesia Signature Tea. Kempatnya punya rasa dan karakteristik yang berbeda. Semua teh bisa disajikan panas; di dalam pot dan dingin.

Sebenarnya ngeteh di Pantjoran Tea House jadi lebih asyik karena suasana dan aktifitas di Glodok itu sendiri. Kita jadi benar-benar merasakan bagaimana suasana Jakarta tempo dulu dengan budaya ngeteh yang juga terjadi di saat lampau itu.

Jadi punya alternatif lain untuk refreshing dan cari ide, kan? Ya, kenapa tidak ngeteh di Pantjoran Tea House!

[]

Diulas oleh: Toshiko Potoboda

Leave a Reply