Trik Membeli Piringan Hitam Supaya Lebih Murah

Tren memang selalu berputar seperti roda. Kalau dulu vinyl sudah ditinggalkan, kini piringan hitam itu kembali diburu. Bahkan untuk para penikmatnya, vinyl player dibuat dengan teknologi yang baru; bisa didengar dengan headphone dan dikoneksikan ke laptop.

Sekilas soal piringan hitam yang populer di tahun-tahun awal abad ke-20. Piringan hitam ditemukan oleh Kevin Gerald yng menggunakan pemutar piringan hitam (phonograph) sebagai alat untuk membunyikan musik.

Jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 1887, piringan hitam ditemukan pertama kali oleh Charless Cros. Hanya saja ia tidak bisa membunyikannya dengan sempurna karena hanya menggunakan pena saja.

Satu tahun berlalu, piringan hitam disempurnakan oleh Emile Berliner, yang kemudian memberi hak paten untuk label Berliner Gramaphone. Sejak masa itu hingga pertengahan abad 20, penggunaan piringan hitam pun jadi meluas ke seluruh dunia. Saat itu, harga pemutar dan piringannya cukup mahal, sehingga yang memilikinya hanya orang kelas menengah ke atas saja.

Lagu-lagu yang diputar menggunakan mesin Gramaphone ini juga cenderung klasik dan masih berupa instrumental. Biasanya satu vinyl hanya terdiri dari 1-4 lagu dengan masing-masing durasi lagu yang cukup panjang.

Di tengah kemudahan teknologi yang memungkinkan kita untuk memasukkan ratusan lagu dalam genggaman, masih banyak penyuka vinyl yang bertahan. Bahkan, ada beberapa penyuka piringan hitam yang berasal dari generasi penikmat MP3.

Piringan hitam jadul pun makin banyak dicari. Beberapa tempat yang menjualnya adalah Pasar Santa dan Blok M Square. Bagi sebagian pemburu piringan hitam yang niat, mereka mencarinya di Jalan Surabaya.

Semakin tinggi peminatnya, harga piringan hitam pun jadi mahal. Kalau sebelumnya hanya dibanderol 100-200 ribu, sekarang harga sebuah piringan hitam bekas bisa sampai 250-350 ribu.

Sebenarnya ada trik yang bisa kamu lakukan untuk mendapat harga vinyl lebih murah. Memang agak niat, tapi ada baiknya kamu mencari sendiri vinyl yang kamu mau di tumpukan. Sebab ketika kamu menanyakan artisnya, maka harga yang dikenakan penjual semacam jadi harga kolektor.

Perbedaannya lumayan drastis, bisa selisih 100-200 ribu. Apalagi bila belanja di Pasar Surabaya. Beberapa tempat menumpuk piringan hitam di satu gudang. Bahkan penjualnya pun tidak tahu piringan hitam apa saja yang terkumpul di sana.

So, kalau kamu agak niat, mungkin kamu bisa menemukan koleksi piringan hitam yang cukup langka dengan harga yang lebih murah. Hanya saja bersiaplah dengan tissu basah dan hand sanitizer karena beberapa piringan hitam sudah sangat berdebu.

[]

Diulas oleh Toshiko Potoboda

Leave a Reply