Film Indonesia dan Pilihan Tema Yang Itu-itu Saja

Berapa banyak film yang sudah Anda tonton hingga saat ini? Apakah Anda sudah menonton berbagai genre film? Film-film dari negara mana saja yang sudah Anda tonton?

Pertanyaan-pertanyaan itu sangat penting guna menentukan mengapa banyak masyarakat Indonesia menganggap film berkualitas cenderung berat untuk dinikmati. Pasalnya, dari diskusi yang diadakan jelang Europe on Screen 2017, masih banyak yang menganggap film asal Eropa itu terlalu berat untuk masyarakat Indonesia.

Kebanyakan masyarakat Indonesia juga masih minim minat untuk menonton film dokumenter. Tidak heran, pasalnya kita juga jarang menemukan film dokumenter di TV lokal, apalagi bioskop.

“Kadang, para pembuat film dokumenter Indonesia harus membuat TV version supaya bisa dinikmati masyarakat. Biasanya durasi hanya 20-46 menit. Padahal, di Eropa mereka sudah buat film dokumenter berdurasi 50-56 menit. Di Filipina, pernah ada film dokumenter hingga 3,5 jam. Mereka sudah terbiasa, tapi penonton kita masih sangat muda,” ungkap Yulia Evina Bhara, Produser film Istirahatlah Kata-kata.

Yulia juga menuturkan bahwa saat ini para pelaku film sudah membuat berbagai genre film dengan alur yang juga beragam. Ini dilakukan untuk membiasakan masyarakat Indonesia dengan tontonan yang baru dengan harapan ke depannya masyarakat bisa menikmati film yang lebih berkualitas.

“Sebenarnya saat ini masih banyak film berkualitas yang minim pendanaan. Mereka masih berpikir apakah film-film berkualitas ini ada pangsa pasarnya? Untungnya baru-baru ini Pemerintah mulai turun tangan. Pemerintah pernah mengundang sepuluh sutradara ke berbagai pulau di Indonesia untuk membuat film. Pemerintah juga yang kemudian mengundang orang-orang terkait agar sutradara bisa pitching filmnya; memungkinkan untuk dapat pendanaan,” tuturnya lebih lanjut.

Lantas bagaimana agar film-film ini mendapatkan atensi penonton Indonesia? Beberapa produser akhirnya membawa film-film mereka untuk ikut festival bergengsi terelbih dahulu. Barulah kemudian film yang sudah terakreditasi dipromosikan di Indonesia.

“Akan lebih mudah mempromosikan film yang sudah dapat akreditasi dari festival. Penonton akan lebih penasaran kemudian itu bisa jadi alasan mereka untuk menonton film tersebut,” jelas Yulia.

Yulia menambahkan semakin terbiasa dengan film-film unik, tidak menutup kemungkinan kalau nantinya penonton Indonesia jadi meminta film-film berkualitas lain untuk ditayangkan.

“Pernah satu kali film kami tidak ditayangkan di satu daerah. Rupanya beberapa orang dari komunitas film membuat suatu gerakan, semacam ingin membawa film kami untuk ditayangkan di sana. Kalau penonton sudah terbiasa akan film berkualitas, mereka pasti akan minta. Penonton memungkinkan untuk meminta film yang mereka inginkan,” tutur Yulia mengakhiri sesi diskusi tersebut.

Jadi, untuk Anda yang ingin membiasakan diri menonton berbagai jenis film, silakan datang ke Europe on Screen 2017! EOS 2017 akan berlangsung dari tanggal 5 hingga 14 Mei 2017 di enam kota di Indonesia; Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta.

Semua film diputar secara GRATIS. Untuk melihat jadwal dan lokasi pemutaran film, silakan mampir ke www.europeonscreen.org.

[]

Diulas oleh Toshiko Potoboda

Leave a Reply