Stop Motion, Teknik Jadul yang Tidak Bisa Ditinggalkan

Teknologi perfilman kita bukan lagi sekadar gambar bergerak yang ditonton. Kecanggihan film 3D atau bahkan 4DX telah membawa pengalaman menonton dengan sangat nyata layaknya kita berada di dalam film tersebut.

Sekilas soal stop motion, teknik animasi yang membuat gambar seakan bergerak ini sudah ada jauh sebelum film dikembangkan, tepatnya di tahun 1800an. Kemunculan pertama teknik ini adalah dari The Humpty Dumpty Circus (1897) buatan Albert E. Smith dan J. Stuart Blackton.

Teknik stop motion sebenarnya merupakan teknik animasi yang paling kuno dan sangat sederhana. Stop motion juga dikenal sebagai claymation karena Stuart Blakton pada tahun 1906 pernah mengembangkan teknik animasi ini dengan menggunakan tanah liat (clay) sebagai objek yang digerakkan. Teknik inilah yang sering digunakan dalam pembuatan efek visual pada film tahun 1950-1960an.

Sebenarnya teknik stop motion ini juga masih banyak digunakan hingga tahun 1990an akhir, sebut saja film The Nightmare Before Christmas (1993). Namun memasuki tahun 2000an, seiring dengan munculnya Toy Story (1995) dengan  animasi 3D, stop motion jarang digunakan dalam film. Stop motion hanya banyak digunakan dalam acara kartun anak-anak.

Berbincang soal stop motion di Indonesia, kita bisa melihat kiprah Pinot yang begitu serius menggarap stop motion “tradisional” dengan sedikit sentuhan digital. Laki-laki yang bernama asli Wahyu Ichwandardi ini kerap memajang video pendek karyanga di medium seperti Steller, Snapchat, YouTube, dan Twitter.

Animasi pendek Pinot biasanya menggabungkan medium kertas dengan lingkungan di sekitarnya. Melalui teknik stop motion, animasi tangan darinya seperti hidup dari frame ke frame. Bahkan karyanya terlihat tidak lagi dua dimensi karena adanya perpaduan dengan obyek sekitar. Rasanya jadi melihat sihir!

Karyanya pun mendapatkan banyak pengakuan dari internasional; seperti pemenang untuk kategori animasi dalam Fast Film Fest tahun 2013 dan nominasi kategori animasi pada Festival Film Tribeca pada tahun yang sama.

Di 2014, kiprahnya menggunakan Vine mendapatkan penghargaan lewat kategori Vineography di ajang Shorty Awards. Berkat kemampuan animasinya tersebut, Pinot kini tinggal di New York. Ia bekerja di perusahaan animasi iklan di negara tersebut.

Masih soal stop motion di Indonesia, rasanya kurang lengkap bila belum menyebut Cerahati. Nama itu sering menghiasi layar televisi di awal 2000an dengan karya video musik mereka yang merajai channel MTV. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah video clip “Me and My Boy Friend Mocca” (FFWD Records, 2003) yang berhasil menyabet gelar MTV Indonesia’s Best Video of the Year Award.

Sayangnya, tidak banyak seniman stop motion di Indonesia, tidak keran kalau teknik ini tidak terlalu dikenal di Indonesia. Sebenarnya, munculnya animasi 3D yang menawarkan kemudahan dan kecepatan dalam proses pembuatan sudah menjadi alasan yang cukup untuk para pelaku industri animasi meninggalkan teknik stop motion. Ditambah kerumitan teknik stop motion yang membutuhkan ketelitian dan proses pengerjaan yag lama, rasanya animasi 3D dengan gambar yang lebih realistis bisa lebih diandalkan.

Kendati demikian, di era milenial ini bahkan masih ada film yang menggunakan teknik claymotion seperti Chicken Run (2000) yang menggunakan tanah liat sebagai objeknya. Di tahun 2005 juga ada film stop motion lainnya yang berjudul Corpes Bride. Sebenarnya masih banyak film dan animasi yang menggunakan teknik stop motion, hanya saja kebanyakan film-film ini muncul di festival.

Namun, apakah masyarakat Indonesia tidak terbiasa dengan stop motion? Belum tentu! Ingatkah kartun Shaun The Sheep yang cukup lama bertahan di salah satu tv nasional Indonesia?

Teknologi memang mempermudah segalanya, tapi ada kalanya teknik jadul seperti stop motion masih diminati. Mungkin adanya para pelaku film yang mempertahankan sentuhan stop motion seperti Chicken Run dan Corpse Bride menandakan teknik animasi kuno tersebut tidak akan hilang dimakan waktu.

Justru minimnya jumlah penggiat stop motion di Indonesia bisa jadi peluang para pelaku kreatif. Kenapa tidak membuat animasi khas Indonesia dengan teknik stop motion? Mungkin juga Anda punya ide seru lain yang bisa memanfaatkan teknik stop motion ini.

[]

Tulisan oleh: Toshiko Potoboda

Leave a Reply