Apa Kabar Mainan Konvensional?

Ada yang pernah melihat mainan gasing? Atau mungkin mobil-mobilan truk dari kayu? Coba perhatikan anak-anak kelahiran tahun 2005 ke atas. Mainan yang mereka pegang rata-rata berbau teknologi; entah pad, laptop, atau mungkin smartphone. Gadget ini biasanya digunakan untuk mengalihkan perhatian di saat mereka rewel.

Sebenarnya, gadget bukanlah satu-satunya solusi untuk mengalihkan perhatian anak. Mainan-mainan konvensional pun bisa! Walaupun non baterai, mainan ini menyenangkan karena biasanya menggunakan daya pegas sebagai penggeraknya.

Di Jepang, salah satu perusahaan mainan konvensional yang masih bertahan adalah Tomy Company. Tidak tanggung-tanggung, minat terhadap mainan ini membuat revenue mereka mencapai 1,4 milyar Euro atau 20.8 triliun rupiah.

Usut punya usut, Kantaro Tomiyama membuat perusahaan itu karena suka dengan mainan konvensional. Kecintaan itu yang membuatnya masih bertahan di tengah masyarakat yang mungkin mulai meninggalkan mainan konvensional.

Tidak hanya diminati anak-anak, mainan ini juga banyak diburu oleh orang dewasa; khususnya mini figure. Mungkin mainan-mainan seperti ini punya sisi nostalgia yang mengingatkan para peminatnya tentang masa kecil mereka.

Beda di Jepang, beda di Indonesia. Kalau di Jepang banyak perusahaan mainan besar, Indonesia punya banyak pengrajin mainan konvensional yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia.

Di pameran-pameran kerajinan tangan saja, banyak sekali pengrajin yang unjuk kebolehan dengan menampilkan produknya. Biasanya stand mainan anak justru ramai dengan anak-anak yang ikut para pengunjung orang tua.

Bahkan anak satu dengan anak lainnya mau berbagi mainan mereka dan bermain bersama. Mereka asyik bercanda satu sama lain sembari memainkan mainan-mainan tersebut.

Mungkin ada baiknya anak-anak memang diberikan mainan konvensional terlebih dahulu sebelum dikenalkan dengan gadget. Menurut situs PBS Parent, usia terbaik mengenalkan gadget kepada anak-anak adalah 11-13 tahun. Sebelum itu, baiknya anak-anak dikenalkan dengan mainan konvensional terlebih dahulu

Nah, untuk kita sendiri, masihkah kita membeli atau mengumpulkan mainan konvensional? Adakah mainan nostalgia orang dewasa yang asli Indonesia? Masih bisa ditemukankah penjualnya?

[]

Diulas oleh: Toshiko Potoboda

Leave a Reply