Cara Kreatif Menyulap Gedung Peninggalan Belanda di Kota Tua

Rasanya semua orang tahu kalau banyak sekali gedung di Kota Tua yang ‘menganggur’. Gedung peninggalan jaman Belanda itu dibiarkan begitu saja, sesekali ada beberapa orang yang berfoto di depannya. Padahal, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan gedung peninggalan tersebut sambil mengajak masyarakat untuk lebih mencintai sejarah.

Seperti halnya yang dilakukan di Gedung Olveh. Dilansir dari National Geographic Indonesia,
gedung bergaya Art-Deco itu merupakan bekas kantor perusahaan asuransi zaman Hindia Belanda, Onderlinge Verzekeringsmaatschappij Eigen Hulp (OLVEH) yang dibangun pada 1921 dan diresmikan pada 1922.

Sumber foto: Indonesia Design

Selama puliuhan tahun gedung itu dibiarkan begitu saja; mungkin teman-teman juga tidak banyak tahu tentang gedung tersebut karena letaknya yang berada di seberang stasiun Kota; bukan di kawasan gedung Fatahillah. Tepatnya pada 17 Maret 2016, Gedung Olveh terlahir kembali. Adalah Che Wei bersama Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) dan konsultan Bhirawa Architects yang telah mengupayakan konservasi dan preservasi Gedung Olveh.

Saat ini, Gedung Olveh biasa digunakan untuk pameran foto, karya seni dan lainnya. Beberapa waktu lalu tim Motzter mengunjungi sebuah creative market bertajuk Olveh Markt.

Gedung tua itu pun disulap jadi lebih artsy untuk creative market. Banyak tulisan tentang sejarah Kota Tua dan Gedung Olveh yang dipajang di sana; membuat kita lebih melek sejarah. Lebih dari itu, para pengunjung bisa mengobrol banyak dengan exhibitors seputar produk kreatif yang mereka buat.

Saat berkunjung ke sana, kami juga menemukan Semasa Café & Shop, sebuah kafe yang membuat Gedung Olveh cukup ramai dikunjungi walau tidak ada pameran sekalipun. Ada yang datang sekadar membaca buku, kerja, atau mungkin memang benar-benar ingin menikmati coffee break mereka.

Menariknya, Olveh Markt rupanya adalah sebuah rangkaian wisata sejarah. Para pengunjung bisa menikmati walking tour dan bazar. Acara dimulai pukul 08.00 pagi yang bermula di Fatahillah Square lalu berlanjut ke Cipta Niaga, Kasteel Batavia, Kampung Tongkol, Menara Syahbandar, Galangan VOC, Jembatan Kota Intan, Toko Merah, Museum Bank Indonesia, dan Gedung Olveh.

Tidak hanya sekadar wisata, mereka juga bisa mendapatkan berbagai informasi seputar sejarah Kota Tua dan gedung-gedung yang mereka kunjungi. Barulah di perhentian terakhir di Gedung Olveh, peserta dimanjakan dengan creative market dengan produk lokal yang unik.

Gedung Olveh sebagai penanda petaka yang mengancam ibukota

Ada kisah menarik dibalik revitalisasi Gedung Olveh. Saat itu, JOTRC menemukan bahwa lantai dasar Gedung Olveh sejajar dengan permukaan jalan, namun jarak langit-langitnya lebih rendah daripada jarak langit-langit di lantai kedua dan ketiga. Penasaran, JOTRC pun membongkar lantai dasar.

Ditemukan bahwa lantai asli dari gedung ini berada nyaris satu meter di permukaan jalan saat ini. Selama ini, permukaan tanah Jakarta terus menerus dibuat tambah tinggi; untuk menghindari banjir. Hal ini menjadi pengingat kepada warga Jakarta tentang ancaman yang mengintip yaitu tenggelamnya Jakarta.

Sumber foto: Nat Geo Indonesia

Masyarakat Indonesia memang sudah seharusnya memperhatikan sejarah Indonesia yang sangat kaya. Mungkin bukannya tidak mau memperhatikan, bisa jadi masyarakat hanya butuh cara yang kreatif untuk berkenalan dengan sejarah; salah satunya dengan creative market atau exhibition seperti Olveh Markt.

Jadi, seberapa banyak kita tahu tentang sejarah tanah yang kita tinggali? Bukankah dengan tahu sejarahnya, kita jadi jauh lebih peduli? Yuk, melek sejarah!

[]

Tulisan oleh: Toshiko Potoboda

Leave a Reply