Lebih Dekat dengan Karya Sir Dandy si Seniman ‘Slebor’

Ada banyak tempat untuk menampilkan sebuah karya seni, salah satunya di dinding kafe. Justru dengan menampilkannya di tempat umum, sebuah karya bisa dilihat masyarakat luas; tidak hanya dikhususkan untuk peminat seni itu sendiri.

Bukan hanya ajang unjuk gigi, menampilkan karya seni juga bisa memperindah interior sebuah ruangan. Tidak heran kalau saat ini banyak kafe, ruang tunggu, atau tempat umum yang dihiasi mural. Bahkan banyak yang mebuat karya seni tersebut jadi background untuk sekadar swafoto.

Begitu pun yang Tim Motzter temui di Chief Coffee. Masuk ke dalam, mata Anda akan terperanjak dengan instalasi Sir Dandy yang menghiasi tembok-tembok coffee shop tersebut. Kali ini, mari kita mengenal lebih dekat karya laki-laki bernama lengkap Dandi Achmad Ramdhani tersebut.

What Goes Around by Sir Dandy

Kehidupan Sir Dandy tidak jauh dari bermusik, interior design, dan furniture. Ada yang unik dari lulusan Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional, Bandung ini. Pasalnya, Sir Dandy dikenal sebagai musikus slebor (semau gue), di satu sisi interior desain dan bisnis desain furnitur adalah hal yang perlu detil dan perhatian tinggi.

Vokalis Teenage Death Star itu merangkumnya dalam karya khasnya yang didasari dengan keliaran ide. Jadi, soal ide karyanya Sir Dandy tetap mempertahankan prinsip slebor-nya. Perpaduan disiplin yang kompleks antara bermusik, interior desain, dan mendesain furniture ini pun menjadi nilai lebih Sir Dandy yang jarang ditemui pada seniman lain di Indonesia.

Sir Dandy dan Harrington Home

Berawal dari kegundahgulanaan Sir Dandy karena ilmu kuliah desain produknya sudah lama tidak ia gunakan, ia pun mulai dari mengisi funiture rumah kontrakannya. Sir Dandy memulainya dengan membeli furniture bekas yang kemudian ia restorasi sendiri. Kemudian Sir Dandy pun mulai tertarik untuk membuat furniture sendiri yang kemudian ia beri nama Harrington Home.

Dalam setiap karyanya, Sir Dandy mencampuradukkan pelajaran norma, kejenakaan, estetika gambar, dan kepekaan rasa dalam tempo yang paralel. Rasanya jadi sulit untuk tidak terdiam sejenak melihat karyanya yang terlihat sederhana namun punya banyak makna. Semua karyanya pun menggunakan bahasa yang lebih dimengerti, jadi semua orang bisa menikmatinya tanpa harus berpikir keras.

Ki-ka: The Time of Times dan Another Day Another Night by Sir Dandy

Nah, kalau teman-teman penasaran dengan karya Sir Dandy, silakan untuk datang ke Chief Coffee Kemang. Silakan menikmati karyanya sambil menyesap segelas kopi di sana.

[]

Tulisan oleh Toshiko Potoboda

Leave a Reply