Pendidikan Seni Rupa Yang Terlupakan

Pelajaran seni rupa rasanya sudah tidak menarik bagi pendidikan nasional kita. Seiring waktu, pelajaran seni rupa di pendidikan dasar dan menengah mulai dikurangi bahkan dihapus. Bagi pembuat kebijakan pendidikan nasional nampaknya pendidikan seni rupa hanyalah pelajaran “kerajinan”

Pernahkah menyempatkan diri menengok pelajaran seni rupa seperti apa yang dilakukan di tingkat pendidikan dasar atau menengah? Mungkin hampir banyak dari kita kurang memperhatikan karena memang tidak ada korelasinya. Padahal pendidikan seni rupa di tingkat dasar ini sangat penting untuk memancing anak didik melatih berfikir imajinatif, kreatif, dan nalar.

Pola pendidikan dasar keseni-rupaan mustinya memancing anak didik dalam berlatih berkreasi dan berfikir imajinatif. Sayangnya para guru pun seringkali tidak terlalu memperhatikan hal ini. Misalnya dalam penggunaan bahan latihan atau permainan. Sejak kemajuan material dasar, bahan yang digunakan oleh para pendidik seni rupa di sekolah dasar dan menengah cenderung suka menggunakan bahan yang tidak ramah kreatifitas bahkan ramah lingkungan. Misalnya gabus atau styrofoam, cat akrilik tekstil, karton warna artificial lakban plastik dan seterusnya. Mungkin bagi sang guru ingin mudah dan cepat, tinggal beli ke toko alat tulis dengan harga yang tidak terlalu mahal sudah bisa didapat material yang sudah warna-warni pop.

Jika kondisi ini terus berlangsung, maka bahasa estetika pada sekolah dasar lambat laun akan masuk pada tataran estetika kertas asturo, warna-warna scotlite, penggunaan bahan styrofoam dan plastik. Lalu lambat laun pula mulai masuk ke sekolah-sekolah dasar di daerah. Padahal bahan dasar untuk pelajaran seni rupa akan lebih menarik jika menggunakan bahan-bahan dasar dari alam seperti sumpit kayu tanpa warna, kapur tulis, sabut kelapa, batok kelapa, rotan, bambu, dan seterusnya tanpa musti di cat dengan cat poster. Semoga ide ini menjadi inspirasi guru-guru dan orang tua.

[]

Share

Leave a Reply