Nongkrong di Toko Buku?

Siapa yang hobi membaca? Bagi sebagian penyuka baca, toko buku bisa jadi tempat favorit. Namun, mungkin di antara kita lebih tertarik untuk duduk lama di sebuah kafe sambil menghabiskan buku favorit.

Tidak heran, ada dua hal yang bisa jadi pemicunya; pertama karena kita tidak boleh duduk berlama-lama di toko buku dan yang kedua adalah suasana baca buku sambil minum kopi atau teh ternyata sangat menyenangkan.

Agak sedikit berbeda dengan di Indonesia, Berlin punya cara khusus untuk memanjakan masyarakatnya yang hobi baca. Ya, membaca bisa jadi hobi sebagian besar masyarakat Berlin. Kita bisa melihat banyak sekali orang yang baca buku di sela-sela waktu mereka; di kafe, di jalan, atau bahkan di kereta.

Selain banyaknya toko buku dengan harga yang terjangkau, kita bisa menemukan banyak konsep toko buku yang menarikd di Berlin. Salah satu yang menarik perhatian tim Motzter adalah Ocelot. Dengan jargon ‘not just another bookstore’, Ocelot memberikan pengalaman baru akan tempat nongkrong yang cocok untuk para pembaca.

Ocelot, Berlin

Buku di Ocelot cukup lengkap; bahkan ada buku Jerman dan buku berbahasa Inggris. Sekadar informasi tambahan, di Berlin ada toko buku yang hanya menjual buku dari Jerman saja.

Ocelot, Berlin

Uniknya, di samping kasir ada kafetaria kecil yang menyedikan aneka kopi dan sandwich. Konsep ini sedikit bertentangan dengan konsep toko buku di Indonesia yang mana orang tidak boleh berlama-lama di bookstore. Tidak salah sih, pasalnya banyak orang yang masih punya mental ingin baca gratis.

Ocelot, Berlin

Mungkin ini juga yang perlu jadi catatan untuk para penyuka baca di Indonesia. Ada baiknya kita menghargai karya penulis yang kita suka dengan membelinya. Sementara itu, di Berlin orang-orang memang ke toko buku untuk membeli buku. Beberapa toko buku bahkan tidak melapisi bukunya dengan plastik.

Sebuah konsep tempat nongkrong yang cukup menarik, namun rasanya agak butuh waktu untuk diterapkan di Indonesia. Pasalnya, semua yang nongkrong di Ocelot memang membeli bukunya plus segelas kopi; bukan hanya menumpang baca dan tidak mau membeli. Menandakan kalau masyarakat di sana memang terbiasa untuk menikmati sebuah buku setelah ia membelinya.

Ocelot, Berlin

Sebenarnya bukan masalah kopinya karena kamu bisa duduk di sana hanya dengan membeli buku; tanpa membeli kopi atau camilan pun tidak masalah. Bagaimana kalau tetap ada orang yang hanya duduk, baca gratis, tanpa beli apa-apa? Tunggu hingga ia ingin ke toilet. Kita boleh meminjam kunci toilet bila membeli buku di situ; begitu cara mainnya.

Jadi, bagaimana menurutmu soal konsep toko buku seperti ini? Atau kamu lebih memilih untuk membawa buku dan nongkrong di kafe?

[]

Tulisan oleh: Toshiko Potoboda

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.