Pak Jumakir: Perajin Wayang Kulit Di Era Industri

Setiap harinya diisi dengan membuat wayang kulit. Satu-persatu pahatan kecil membuat lubang dan garis dari tangan yang sabar. Namanya Pak Jumakir usianya sudah 55 tahun, seorang perajin wayang kulit dari Yogyakarta.

Membuat wayang kulit tentu membutuhkan ketekukan tingkat tinggi, proses pembuatannya dari lembaran kulit, sketsa, lalu di cat hingga jadi, kurang lebih membutuhkan waktu tiga minggu. Pak Jumakir melakukannya sudah puluhan tahun. Di era industri saat ini, tentu waktu tiga minggu ini jelas akan dianggap tidak efisien jika harus dibandingkan dengan pembuatan wayang buatan mesin. Dengan mesin fabrikasi, jangan-jangan satu hari mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan wayang kulit cetakan? Apa yang membedakannya? Ketenangan dan ketekunan Pak Jumakir-lah yang membuat tiap karya wayang kulitnya terasa hangat.

Banyak dari kita tidak menyadari betapa sentuhan tangan Pak Jumakir ini memiliki nilai yang sangat tinggi dibanding buatan mesin. Masa kini adalah masa fabrikasi, industri, mesin, dimana hampir semua barang diarahkan untuk dibuat lebih cepat dan lebih banyak (quantity), sementara produk hasil buatan tangan (hand made) makin berkurang. Padahal jika saja kita melihat peluang ke depan, seharusnya produk buatan tangan inilah yang akan memiliki nilai lebih tinggi. Akan tetapi hal yang musti diingat adalah bagaimana sosok dan nama Pak Jumakir ini musti muncul, misalnya semua wayang buatan beliau harus di label dengan brand “Wayang Kulit Jumakir”. Di sana akan ada nilai artisan, nilai dimana semua wayang buatan Pak Jumakir telah memiliki jaminan kualitas. Jadi bukan sekedar kelas kerajinan yang mana pekerjanya adalah manusia sebagai pengganti mesin saja. Yang umumnya pembeli tidak akan pernah tahu siapa “manusia” yang mengerjakannya itu? Berbeda dengan artisan, kita akan tahu siapa nama pembuat produk yang kita beli.

IMG_2319-small

Pak Jumakir mengerjakan wayang kulit ini di salah satu pojok halaman lokasi Istana Air Taman Sari Jogja. Suasana yang tenang, teduh, ditemani tembang Jawa dan kicauan burung Cucakrawa, tentu memberikan sentuhan “jiwa” dari tiap karya wayangnya. Jika berkesempatan singgah ke sana, sempatkanlah mampir dan berjumpa dengan beliau. Orangnya ramah, santun, dan menyenangkan untuk diajak ngobrol dan senda-gurau. Jika beruntung, kita bisa membeli langsung wayang kulit yang sudah jadi buatan langsung dari tangan Pak Jumakir.

[ ]

(Foto-foto milik @motulz)

Share

Leave a Reply